Memilih Pemimpin Yang Tepat di Tahun 2019

0
Isdiyono, Ketua Pengurus Pusat Kolektif Kosgoro 1957. (suarakarya.co.id)

Oleh: Isdiyono

Ibarat berbelanja ke pasar untuk keperluan rumah tangga. Sudah pasti kita akan membeli kebutuhan hidup yang layak dan cocok .

Tidak mungkin tergiur barang-barang yang cacat, rusak dan tidak bermanfaat, walaupun mungkin dibarengi dengan promosi yang dikemas bagus dan sangat menarik. Pemberian potongan harga yang menggiurkan, juga menjadi daya tarik pembeli.

Selain itu, penjual juga sering melebelisasi barang dagangannya dengan kalimat “ditanggung legal dan halal 100 persen.

Namun hati-hati dengan penawaran yang diucapkan pedagang. Sebab, kekeliruan dalam membeli barang, akan membawa dampak negatif yang cukup panjang bagi para pembeli. penyelesalanpun tak akan kunjung usai dan pasti akan berlarut- larut menghantui diri, apabila barang yang dibeli tidak sesuai dengan apa yang dipromosikan.

Kita mengatahui bahwa sesuai dengan program nasional, pemilu serentak akan digelar 2019. Bangsa Indonesia akan berduyun-duyun pergi tempat pemungutan suara (TPS) untuk menggunakan hak demokrasinya, yakni akan menusuk calon pilihannya pada kertas pemilihan.

Bagi Calon yang berkenan dihatinya, akan diapresiasi dengan positif, sedangkan yang dinilai negatif pasti akan ditinggalkan.

Saat ini promosi para calon sudah mulai ramai dilangsungkan dan ditayangkan di hampir semua media massa, ataupun reklame dan spanduk. Berbagai cara yang mereka lakukan untuk menarik perhatian dan simpati serta menentukan pilihannya.

Bahkan ada pula yang disertai dengan janji-janji yang aduhai , memikat hati dan terlihat menarik. Kata peribahasa, semua pedagang pasti akan mempromosikan produknya agar menjadi nomor 1. Hal itu sah-sah saja, tetapi
masyarakat wajib menyadari dengan cermat bahwa dalam dunia politik barang yang dipromosikan adalah dagangan politik.

Sekedar diketahui, politik bertujuan untuk meraih kekuasaan dan dengan kekuasaan itu akan dilakukan untuk mencapai cita-cita politiknya. Atau dengan bahasa yang ekstrim, mereka akan menggunakan berbagai cara (Machiavelli).
Dalam kaitan ini, perlu diingatkan kembali tiga sikap KPU yang menggariskan dengan tegas bahwa para calon anggota legislatif yang terkena diskualifikasi (terkena kasus hukum,) karena melakukan tindak pidana korupsi, memperkosa di bawah umur dan kasus penyalahgunaan narkoba.

Mereka tidak dapat diusulkan untuk mencaleg. Tujuannya agar pemimpin bangsa kita ke depan bangsa betul- betul betul bersih dalam arti yang luas.

Bila hal ini dipaksakan oleh kekuatan politik tertentu, sangat dikhawatirkan akan terulang kembali perilaku yang sama, yang tentunya akan sangat merugikan bangsa. Mereka pasti akan mengkorup uang rakyat untukt kepentingan diri sendiri, keluarga dan kolompoknya.

Jika dilihat dari segi moral, tidak etis dan rusak sangat tidak terpuji dan tidak patut dijadikan contoh. Oleh karena itu, diharapkan bagi para calon anggota dewan agar betul-betul memperhatikan hal-hal semacam itu, terutama bagi calon-calon muda.

Hindarkan semaksimal mungkin perilaku yang melanggar hukum bila nanti terpilih. Perlu diingat bahwa uang, harta dan lain-lainnya yang dikreteriakan bersifat menyuap, bukan segalanya.

Bukti telah banyak mereka yang terkena kasus hukum yang kini mendekam dalam penjara. Disamping itu masa depan pasti menjadi suram, keluarga akan terkenan getahnya pula untuk kurun waktu yang sangat panjang.

Perlu dicermati dengan sungguh-sungguh bahwa pada dewasa ini rakyat sudah sangat melek, cerdas dan telah sehinga tidak mudah mengiyakan walaupun materi telah diterimanya. Merekapun tidak mudah dibodohi dengan iming-iming dan hadiah yang akan dianggap sebagai rezeki nomplok. namun belum tentu akan melakukan seperti yang kita harapkan..

Saran yang cukup bijak dan realistis, jumpailah mereka dengan tingkat kesetaraan yang sama . Kesantunan dalam segala hal wajib diwujudkan.

“ Duduklah sama rendah dan berdirilah sama tinggi (egaliter)” itulah kata peribahsa yang bijak. Hargailah diri mereka yang sama dengan kita, dan upayakan tidak ada jarak yang ekstrem.

Sampaikan program kita dengan bahasa sederhana yang jelas dan jujur serta harus dapat difahami yang kia inginkan. Hindarkan pula menggunakan istilah – istilah yang kurang dimengerti. Lakukan dialog dengan jujur dan terbuka. Tidak etis bila mengobral janji yang tidak mungkin direalisasi.

Dengarkan dengan saksama aspirasinya, karena masalah yang dihadapi , mungkin sangat berbeda. Bila perlu, atas pertimbangan tertentu lakukan “sowan” kepada para tokoh atau pemuka masyarakat.

Budaya masyarakat kita hingga kini masih mendengarkan petuah dari para tokohnya. Oleh karenanya, patut pula dipikirkan.

Dana yang kita gunakan untuk program itu, jelas ada dan memang perlu, tetapi jangan berlebihan. Siapkanlah dengan cermat dan cukup, jangan sampai mereka menilai kita kelebihan uang.

Mudah-mudahan, tertama para calon muda dapat berhasil menjadi Pemimpin bangsa yang befihak kepada rakyat. Masa depan bangsa ini , berada di tanganmu.

Penulis adalah Ketua Pimpinan Pusat Kolektif Kosgoro 1957