12 PTN-BH Dapat Dana Penelitian hingga 400 Miliar

0

JAKARTA (Suara Karya): Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengumumkan pendanaan penelitian untuk Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) Tahun 2021. Dana yang digulirkan mencapai Rp400 miliar.

“Dana penelitian ini berasal dari Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) untuk Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPM) tahun ini sebesar Rp1,09 triliun,” kata Bambang Brodjonegoro secara virtual dari Jakarta, Selasa (16/2/21).

Menristek menjelaskan, anggaran BOPTN untuk PPM terbagi 3 bagian yaitu, dana penelitian untuk PTN Non BH dan PTS sebesar Rp632 miliar (58 persen), dana pengabdian masyarakat untuk PTN dan PTS sebesar Rp63 miliar (6 persen).dan dana penelitian untuk PTNBH sebesar Rp400 miliar (36 persen).

“Tahun ini, dana penelitian untuk PTN-BH diberikan ke 12 perguruan tinggi, salah satunya Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) yang pada 2020 lalu terpilih menjadi PTN-BH. Diharapkan, dana tersebut akan memicu lebih banyak lagi kegiatan riset dan inovasi di masing-masing kampus,” ujarnya.

Bambang meminta kepada perguruan tinggi penerima dana bantuan untuk bisa mengatur anggaran sebaik mungkin. Meski dananya minim, diharapkan riset yang dihasilkan optimal dan memberi manfaat kepada masyarakat dan bangsa.

Berikut rincian dana penelitian untuk 12 PTN-BH berdasarkan penilaian kinerja penelitian. Pertama, Universitas Indonesia (UI) sebesar Rp45,9 miliar, Universitas Gadjah Mada (UGM) Rp40,7 miliar, Institut Teknologi Bandung (ITB) Rp40,4 miliar, Universitas Airlangga (Unair) Rp39,2 miliar dan Universitas Diponegoro (Undip) Rp38,9 miliar.

Selain itu, masih ada Institut Pertanian Bogor (IPB) Rp33,4 miliar, Universitas Padjadjaran (Unpad) Rp32,5 miliar, Universitas Sumatera Utara (USU) Rp30,6 miliar, Universitas Hasanuddin (Unhas) Rp30 miliar, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Rp28,8 miliar, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Rp24,3 miliar, dan Universitas Sebelas Maret (UNS) Rp15,3 miliar.

“PTN-BH mendapat keleluasaan dalam mengelola dana penelitian secara mandiri. Keleluasaan itu diharapkan dapat mengoptimalkan kualitas penelitian untuk meningkatkan daya saing internasional menuju ‘World Class University’,” katanya.

Lewat dana tersebut, lanjut Menristek, PTN-BH diharapkan juga mampu menghilirisasi hasil penelitian menjadi produk-produk inovasi. Penelitian diarahkan pada 9 bidang yang ada dalam Prioritas Riset Nasional (PRN).

Ke-9 bidang dalam PRN, yaitu Pangan dan Pertanian; Energi; Kesehatan dan Obat; Transportasi; Produk Rekayasa Keteknikan; Pertahanan dan Keamanan; Kemaritiman; Sosial Humaniora; serta Multi Disiplin dan Lintas Sektor.

“Sembilan fokus riset itu diharapkan bisa mendukung target PRN guna menghasilkan 49 produk riset dan inovasi, yang mencakup 80 tema dan 416 topik,” ujarnya.

Merujuk pada Tingkat Kesiapterapan Teknologinya (TKT), anggaran tersebut untuk mendanai penelitian dasar sebesar Rp231 miliar, penelitian terapan Rp127 miliar dan peningkatan kapasitas riset Rp42 miliar.

Pada kesempatan yang sama Pelaksana tugas (Plt) Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan, Muhammad Dimyati mengungkapkan, penerima dana penelitian untuk PTN-BH 2021 berjumlah 3.122 proposal dari 3.545 proposal penelitian yang diajukan.

“Khusus untuk PTN-BH, seleksi substansi proposal penelitian dan anggaran dikelola secara mandiri oleh PTN-BH namun tetap dalam koordinasi dan pengawasan Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Kemristek/BRIN,” ucap Bambang.

Ditambahkan, pengajuan proposal penelitian berdasarkan beberapa skema pendanaan penelitian, yaitu Penelitian Kompetitif Nasional dan Penelitian Desentralisasi.

“Koordinasi dan pengawasan tetap melalui kami, tujuannya agar penelitian selaras dengan kebijakan Kemenristek/BRIN. Selain itu, kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat oleh PTN-BH diharapkan memberi dampak terhadap kesejahteraan masyarakat secara terprogram dan berkelanjutan,” kata Dimyati.

PTNBH menjadi perguruan tinggi yang diharapkan menghasilkan produk riset dan inovasi yang dapat membantu menangani permasalahan ekonomi, penanggulangan covid-19 dan penanggulangan bencana yang saat ini melanda Indonesia.

Terbukti dari beberapa produk penelitian perguruan tinggi unggulan yang saat ini dalam proses pengembangan dan hilirisasi adalah produk inovasi skrining covid-19 yaitu Genose C19 dari UGM dan iNose dari ITS yang diproses dengan kecerdasan artifisial (AI).

Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Nizam berharap penelitian di perguruan tinggi tak sebatas publikasi, namun bisa bermanfaat ke masyarakat. (Tri Wahyuni)