120 Ribu Bayi Baru Lahir Terancam Hepatitis B

0

JAKARTA (Suara Karya): Setiap tahunnya ada 120 ribu bayi baru lahir di Indonesia terancam terkena hepatitis B. Ancaman itu didapat dari ibunya sendiri, yang ditularkan lewat persalinan.

“Dari 5,3 juta ibu hamil setiap tahunnya terdeteksi ada 2,2 persen memiliki HBsAg reaktif. Jika tak diobati, mereka akan menulari virus hepatitis itu ke anaknya,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan, Wiendra Waworuntu dalam temu media, di Jakarta, Jumat (27/7).

Dijelaskan, Indonesia hingga saat ini merupakan negara endemis tinggi hepatitis. Penularan hepatitis di Indonesia terbanyak bersifat horizontal yaitu dari ibu ke anaknya. Di negara lain, kebanyakan bersifat vertikal yaitu lewat jarum suntikan, transfusi darah dan hubungan seksual yang tidak aman.

“Sejak 2014, pemerintah melakukan upaya pengendalian hepatitis B lewat beberapa kegiatan yaitu deteksi dini pada ibu hamil. Proses persalinan ibu hamil dengan virus hepatitis akan dipantau untuk mencegah penularan,” katanya.

Anak yang lahir dari ibu hamil dengan status hepatitis B reaktif akan diberi vaksin HBO (dosis lahir) dan HBIG sebelum 24 jam. Jika vaksin diberikan lebih dari 1 hari, maka efektifitas obatnya tidak optimal.

“Jika vaksin HBO diberikan 12 jam setelah kelahiran, 75 persen hati bayi akan terlindungi. Ditambah vaksin HBIG, maka perlindungan menjadi 95 persen. Jika tidak dilakukan tindakan, bayi akan terkena hepatitis kronik saat usia 30 tahun. Padahal itu usia produktif,” tuturnya.

Wiendra menambahkan, berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya hepatitis. Hal itu dilakukan untuk meminimalisasi angka penularan virus hepatitis dari ibu ke anaknya.

“Pilot project deteksi dini hepatitis B kami lakukan di 34 provinsi menjangkau 244 kabupaten/kota dalam 2 tahun terakhir ini. Ada 742.767 ibu hamil kami periksa. Dari jumlah itu tindakan proteksi telah dilakukan terhadap 7.268 bayi baru lahir,” ujarnya.

Penyakit hepatitis mendapat perhatian, karena penyakit tersebut menimbulkan dampak kecacatan dan kematian. Biaya yang harus dikeluarkan untuk pengobatan hati yang sudah menjadi sirosis sebesar Rp1 miliar. Biayanya makin mahal jika sudah kanker hati, yakni Rp5 miliar.

“Untuk itu, pentingnya dilakukan pencegahan dan pengendalian hepatitis. Karena harga yang harus dibayar jika sudah kronik sangat mahal,” ucap Wiendra seraya menambahkan peringatan Hari Hepatitis Sedunia akan digelar di Rusunawa Rawabebek, Pulo Gebang Jakarta Timur pada 31 Juli mendatang. (Tri Wahyuni)