255 Bandara Pelayanan tak Terdaftar di Kemenhub

0

MERAUKE (Suara Karya): Eksistensi 255 bandara pelayanan dalam Otoritas Bandara Wilayah X Papua Selatan masih belum terdaftar di Kementerian Perhubungan (Kemenhub) meski harus diakui bermanfaat bagi masyarakat pedalaman.

Kepala Otoritas Bandara Wilayah X Kementerian Perhubungan Usman Effendi mengungkapkan, pihaknya mengelola 455 bandara yang terdiri atas 200 bandara terdaftar berdasarkan Permenhub dan sebanyak 255 yang tidak terdaftar dan tidak terdaftar keberadaannya karena mengacu pada peraturan gubernur setempat.

Usman mengatakan hal itu dalam bincang makan malam di Merauke,  Minggu (10/2/2019). Meskipun tidak terdaftar tetapi pihaknya tetap memperhatikan 255 bandara yang eksis atas kebutuhan masyarakat yang umumnya tidak terjangkau oleh pemerintah.

“Dari 255 yang tak terdaftar di Kemenhub itu,  semua aktif untuk pelayanan ibadah,  pengobatan dan kebutuhan makanan.  Bandara-bandara untuk pelayanan ini eksis karena dibangun sendiri dan tidak terdaftar tetapi kita (pemerintah) tetap memperhatikan dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Bandara yang eksis sebagai pelayanan tersebut dikelola oleh operator-operator yang ikut juga membantu pemerintah dalam hal pelayanan masyarakat.

“Di sinilah eksistensinya dipandang membantu pemerintah dalam menjangkau wilayah yang sulit dicapai. Ini diakui dengan peraturan gubernur,” kata Usman.

Dari jumlah itu, menurut dia operasional bandara yang hanya pelayanan internal tersebut dilakukan oleh masing-masing pihak yang membangun yang mengoperasikannya.

“Ada banyak operator (dari institusi masyarakat)  yang melakukan operasionalnya di sini seperti di Sentani yakni oleh Yajasi,  Tariku,  AMA dan MAF,” jelasnya yang memberikan rincian bersama Kepala Bandara Sentani A Widyo Praptomo.

Terkait bandara yang terdaftar di Otoritas Bandara Wilayah X dia mengatakan, bandara tersebut lebih banyak berupa lapangan terbang kecil.

“Dari 200 bandara yang dikelola pemerintah pusat, yang  eksis berdasarkan Permenhub No 41 Tahun 2011 diantaranya,  35 OPBO,  5 satuan pelayanan dan 160 lapangan terbang, ” jelas Usman.

Dijelaskannya, di antara bandara yang ada dalam Otoritas Bandara Wilayah X ada yang terbilang cukup tinggi lalu lintas penerbangan dan logistik dilayaninya. Bandara-bandara ini paling prospektif dengan angkutan logistik cargo dan 200 penerbangan setiap hari.

“Di antaranya yang paling prospek adalah bandara Timika,  Wamena dan Bandara Sentani. Di Bandara Sentani dengan 500-600 logistik cargo dan 200 movement (penerbangan) per hari,” ujarnya.

Menyangkut tiket,  menurut Usman tidak ada ketentuan tarif seperti dalam penerbangan resmi.

“Harga tiket ke Sentani  dari Kasona Weja Memberamo pernah diborong orang,  Rp4juta per orang untuk 9 orang, jadi Rp 36 juta. Itu persetujuan saja.  Begitu juga ada carteran dan harga kesepakatan saja,  biasa begitu (di daerah yang tak terjangkau),” ucapnya. (Indra DH)