BPPT Siapkan Terobosan Teknologi  Pertahanan, Kebencanaan dan Material

0
Foto kiri ke kanan: Deputi TPSA Hamam Riza, Kepala BNPB Willem Rampangilei, Kepala BPPT Unggul Priyanto, Deputi TIRBR Wahyu Pandu dan Deputi TIEM Eniya. (Dok Humas BPPT/suarakarya.co.id)

JAKARTA (Suara Karya): Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mempersiapkan berbagai terobosan teknologi pada tiga bidang yang urgen. Ini sekaligus menjawab permasalahan bangsa dan kondisi perekonomian dunia saat ini, yang dianggap sedang menghadapi berbagai ketidakpastian.

“Untuk menjawab tantangan (ketidakpastian) tersebut dan dalam rangka mendukung misi pemerintahan memperkuat kemampuan, kapasitas dan kemandirian industri dalam negeri, mewujudkan kemandirian dan daya saing bangsa, maka perlu dipersiapkan berbagai terobosan inovasi teknologi antara lain di bidang teknologi industri pertahanan
keamanan, kebencanaan dan material,” kata Kepala BPPT Unggul Priyanto pada acara Kongres Teknologi Nasional (KTN) 2018 di Jakarta, Selasa (17/7).

Kebutuhan akan dukungan dan penguasaan teknologi industri pertahanan merupakan keniscayaan, khususnya teknologi tinggi karena teknologi pertahanan dan keamanan (Hankam) bersifat termutakhir (state of theart) atau high technology.

“Karena itu, strategi penguasaan teknologi pertahanan dan keamanan perlu diupayakan untuk mencapai cita-cita kemandirian yang diharapkan,” ujarnya.

Unggul menjelaskan, penguasaan teknologi pertahanan memiliki ruang lingkup yang cukup luas meliputi penguasaan teknologi dalam aspek-aspek produksi, operasi, maintenance repair overhaul (MRO), maupun upgrading. Untuk mencapai kemandirian nasional yang paripurna diperlukan penguasaan dari tahap rancang bangun dan rekayasa sebelum tahap produksi hingga pengoperasian.

Sementara, bidang teknologi kebencanaan menjadi ajang pemangku kepentingan untuk memetakan status perkembangan, mengkaji dan menyikapi kemajuan, kesiapan, serta niat untuk meningkatkan ketahanan bangsa, terhadap ancaman potensi serba-bencana, baik slow-onset maupun fast-onset disasters, melalui penerapan teknologi anak bangsa.

“Kongres ini juga menjadi wahana retrospeksi, membangun peta jalan kedepan, mendorong kemampuan anak bangsa bekiprah dan berkontribusi menghadapi potensi bencana yang semakin banyak terjadi dan skala intensitasnya pun semakin meningkat di bumi super-market bencana Indonesia,” jelas dia.

Dia mengatakan, dibidang teknologi material maka tantangan inovasi yang dihadapai adalah bagaimana mengelola sumber daya alam yang dimiliki Indonesia agar dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi pembangunan dan kesejahteraan rakyat ditinjau dari aspek ketergantungan impor bahan baku industri yang setiap tahun menyedot sekitar Rp1.500 triliun.

“Aspek pengelolaan sumber daya lokal sebagai bahan baku industri di enam sektor industri prioritas, dan aspek minimnya inovasi karena tidak didukung oleh kebijakan yang kuat dan pendanaan yang memadai. Dalam rangka meningkatkan daya saing untuk mewujudkan kemandirian bangsa, terobosan dan rekomendasi dalam teknologi material dirasa perlu untuk dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi,” paparnya.

KTN 2018 yang diselenggerakan untuk ketiga kali ini, akan berlangsung selama tiga hari, 17-19 Juli, mengambil tema, “Strategi Implementasi Kebijakan Nasional untuk mendukung Kemandirian Teknologi”, akan berlangsung di Auditorium Gedung II BPPT.

“Perkembangan teknologi turut memberikan dampak pada perubahan sosial dan ekonomi selain berbagai isu geopolitik,” kata Unggul.  (Indra DH)