PYC Ajak Sektor Industri Tinggalkan Penggunaan Energi Fosil

0

JAKARTA (Suara Karya): Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) mengajak dunia usaha khususnya di sektor industri untuk meninggalkan energi fosil yang menghasilkan keluaran emisi karbon untuk beralih menggunakan energi ramah lingkungan (energi terbarukan) dalam pengoprasian mesin industri di Indonesia.

Ketua Umum PYC Filda C. Yusgiantoro menegaskan, komitmen pengurangan emisi diberbagai sektor khususnya industri di seluruh dunia termasuk Indonesia.

“Sudah saatnya kita melakukan transisi energi. Artinya dari penggunaan energi fosil, sekarang mukai beralih ke energi terbarukan,” kata Filda dalam Webinar bertema Milenial dan Gen Z untuk Transisi Energi yang Berkeadilan yang disiarkan langsung pada chanel Youtube PYC, Sabtu (16/10/2022).

Menurut Filda, sumber daya manusia (SDM) atau human capital sangat berperan dalam meningkatkan usaha dan produktivitas dari perusahaan untuk mendukung transisi energi.

Selain kolaborasi top-down dan bottom-up kata dia, sangat dibutuhkan untuk mendukung peningkatan human capital yang siap untuk transisi energi.

Pada kesempatan yang sama Program Manager Gerakan Inisiatif Listrik Tenaga Surya (Gerilya) Kampus Merdeka, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Khoiria Oktaviani mengatakan, human capital dibutuhkan dalam mencapai Nationally Determined Contribution (NDC) dan mencapai bauran energi. Namun, saat ini kondisi bauran energi masih didominasi oleh fosil khususnya batubara.

Menurut Khoiria, Indonesia memiliki potensi energi baru dan terbarukan (EBT) yang sangat besar. Lebih lanjut, Khoiria menyampaikan bahwa Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memiliki program-program yang berkolaborasi dengan beberapa pihak dalam mendukung transisi energi bagi Generasi Z.

Diantaranya adalah Patriot Energi yang merupakan pelatihan untuk anak muda yang bertujuan untuk mendorong akses listrik di daerah terpencil. Selain itu, ada program Gerakan Inisiatif Listrik Tenaga Surya (Gerilya) yang berkolaborasi dengan Kampus Merdeka.

Business Development PT Sumber Energi Surya Nusantara (SESNA), Anisa Isabella Agustina menyampaikan, dari tahun 2012-2019 pekerjaan di sektor energi terbarukan (renewable energy employment) meningkat signifikan, salah satunya di sektor solar PV, bioenergi, hydropower, dan angin. Peningkatan RE employment dipengaruhi oleh peningkatan penggunaan energi yang bersih (clean energy).

Dalam hal ini kata dia, peran akademisi sangat penting untuk mempersiapkan skill SDM di sektor energi terbarukan. Selain itu, perlu adanya kebijakan dari pemerintah untuk mendukung sinkronisasi dari beberapa stakeholders.

“Koordinasi dari sektor publik dan swasta juga dibutuhkan untuk mencapai Sustainable Development Goal (SDG),” ujarnya.

Secretary General Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), I Made Aditya Suryawidya menyampaikan, bahwa ketika berbicara tentang kesiapan industri, perlu memperhatikan teknologi, pendanaan, dan SDM.

“Saat ini, lapangan pekerjaan di Indonesia berhubungan langsung dengan tujuan transisi energi,” kata Made.

Dalam hal ini, SDM juga mendukung kesiapan industri dalam transisi energi. Made lebih lanjut menjelaskan bahwa industri yang awalnya berada di sektor fosil, saat ini mulai melakukan diversifikasi ke energi terbarukan.

Sebagai contoh adalah lapangan pekerjaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) semakin bertambah. Sedangkan, tantangan yang dihadapi Indonesia adalah bagaimana memfokuskan pada teknologi dan value chain.

Dalam webinar tersebut, Ketua Pengawas PYC Inka B. Yusgiantoro juga ikut memberikan pandangannya. Menurut dia, Indonesia memiliki 3 target utama yaitu NDC, NZE 2060, dan SDG.

“Transisi energi menjadi tugas yang cukup berat bagi negara. Bukan hanya menyediakan infrastruktur tetapi juga SDM,” ujarnya.

Dengan demikian lanjut Inka, hal ini perlu menjadi perhatian bagaimana menyiapkan SDM yang tepat bagi Indonesia. Ke depan, diharapkan akan semakin banyak program untuk mendukung transisi energi. Generasi muda perlu memetakan kemampuan apa yang dibutuhkan dan sumber energi apa yang berpotensi besar di Indonesia.

Selain itu, Milenial dan Gen Z perlu mengembangkan startup energi bersih. Dalam hal ini, pendidikan menjadi kunci utama dalam mendukung green human capital. Dalam mendukung transisi energi di sektor industri, perlu adanya kolaborasi penta helix (pemerintah, akademisi, swasta, media, dan masyarakat). (Bayu)