49 Dosen IKJ Gelar Pameran Bertema Bikrokrasi

0

JAKARTA (Suara Karya): Sebanyak 49 seniman pengajar Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta (FSR IKJ) menggelar pameran bersama di Galeri Cipta, Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 22-29 Juni 2019. Pameran kali ini bertema ‘seniman pengajar menjelajah di dalam dan luar birokraksi’.

“Seniman masa kini tak boleh lagi alergi terhadap birokrasi. Karena, era seniman bangun siang sesukanya sudah lewat,” kata Rektor IKJ, Seno Gumira Ajidarma saat membuka pameran bersama 49 seniman pengajar IKJ di Galeri Cipta II, TIM Jakarta, Sabtu (22/6/2019).

Seno Gumira menambahkan, seniman dosen harus rutin menggelar pameran sebagai bentuk peneguhan eksistensinya sebagai seniman. Hal itu tak saja berguna untuk mematangkan keahlian, tetapi juga memenuhi obsesinya sebagai seniman dan perkembangan seni.

“Untuk itu, setiap tahun kami menantang para seniman pengajar untuk membuat pameran bersama atau pameran tunggal untuk eksistensinya sebagai seorang seniman,” ujarnya.

Hal senada dikemukakan Dekan FSR IKJ, Indah Tjahjawulan. Pemeran bersama kali ini diikuti 49 seniman pengajar dari beragam jurusan seni rupa, yaitu seni murni, kriya, desain mode, desain interior dan desain komunikasi visual.

“Para seniman pengajar ini menggunakan ragam media dan tema berkarya yang beragam sesuai dengan idenya masing-masing. Ini sekaligus bentuk tanggung jawab seniman pengajar kepada publik, dan tentu saja ke mahasiswanya sendiri,” kata Indah.

Indah menambahkan, tidak ada batasan atas karya para seniman dosen. Namun, ada tema yang harus ditaati, agar pameran terlihat lebih menarik. “Temanya setiap pametan berganti-ganti tergantung kesepakatan bersama. Sebelumnya, temanya tentang potret diri,” ujarnya.

Ditanya sanksi bagi seniman dosen yang tak pernah menggelar pameran, Indah mengatakan, tak ada sanksi semacam itu. Karena karya seni tidak bisa diukur. Pameran dibuat untuk eksistensi diri para seniman dosen, bukan untuk penilaian.

“Hampir semua seniman dosen di IKJ punya jadwal rutin pameran, baik sendiri ataupun bersama. Waktunya pun sangat beragam, tak harus tiap tahun,” ujarnya.

Sementara itu dosen FSR IKJ yang ikut pameran bersama kali ini, Cecil Mariani merangkai keseluruhan gambar pameran sebagai satu ungkapan optimistis. Ia menyebut kondisi seni dalam birokrasi yang dijalani seniman dosen maupun guru seni di seluruh Indonesia memiliki langgamnya sendiri.

“Mulai dari guru seni hingga seniman dosen memiliki kondisi dan langgam yang khas dalam proses pemikiran dan berkarya. Langgam itu hadir dalam sosialitas almamater para pengajar, peran kerja antara mengajar dan berkarya,” tuturnya.

Dosen atau pengajar secara langsung maupun tidak, berinteraksi pula dengan pasar industri dan sistem-sistem formal institusi. Birokrasi, termasuk aturan, administrasi, prosedur, pelaporan, sistem akreditasi, kurikulum, skkni, borang dan banyak lagi, disebut Cecil sebagai hal yang khas untuk pengajar seni rupa di IKJ.

Ke-49 seniman pengajar FSR IKJ yang ikut dalam pameran ini antara lain Agoes Salim, Ang Che Che, Anindyo Widito, Arryadian, Bambang Tri Rahadian, Boedhatmaka Darsono, Budi PM Tobing, Indah Tjahjawulan, Iwan Gunawan, Jimmy Ivan S, Kefas Sendy Wong, Kris Wardhana, Lily Wijayanti dan Lucky Wijayanti.

Selain itu masih ada Danny Yuwanda, Mangesti Rahayu, Deny Rusanto, Oky Arfie Hutabarat, Nicholas Wila Adi, Dianthus Louisa Pattiasina, Rahayu Pratiwi, Dick Syahrir, Rangga Samiaji Rinjani, Dionisius Bowo, Rasuardie, Dita Rachma Sari, Saut Irianto Manik dan Dolorosa Sinaga. (Tri Wahyuni)