65 Persen Jemaah Haji Indonesia 2018 Miliki Kesehatan Berisiko Tinggi

0

JAKARTA (Suara Karya): Kasus meninggalnya jemaah Indonesia selama musim haji tahun 2018 masih terbilang besar, yakni 331 orang. Hal itu bisa terjadi, karena ternyata lebih dari 65 persen jemaah haji berangkat dalam kondisi kesehatan berisiko tinggi.

“Kami berharap tahun depan Kementerian Agama menerapkan seleksi istithaah lebih ketat lagi kepada calon jemaah. Karena berhaji itu tak sekadar punya uang, tapi juga harus memiliki kesehatan prima,” kata Menteri Kesehatan (Menkes) Nila FA Moeloek dalam acara Evaluasi Nasional Kesehatan Haji 2018, di Jakarta, Kamis (11/10/2018).

Seperti diberitakan sebelumnya, tercatat ada 331 jemaah haji Indonesia meninggal dunia di Tanah Suci hingga 12 September 2018. Mereka meninggal dunia karena faktor penyebab yang berbeda-beda. Dari 331 jemaah itu, 239 wafat di Makkah, 47 di Madinah, 8 di Arafah, 5 di Muzdalifah, 25 di Mina dan 7 di Daker Bandara.

Menkes menyebutkan, jemaah haji Indonesia yang berangkat tahun ini mencapai lebih dari 221 ribu orang. Jumlah itu meningkat 2,1 persen atau 6.186 orang dibanding tahun lalu.

“Meski jemaah bertambah, berkat koordinasi yang baik antar petugas di Tanah Suci, masalah kesehatan bisa diatasi dengan baik,” ujarnya.

Kepada dinas kesehatan provinsi, Menkes meminta agar target pemeriksaan dan pembinaan bagi jemaah haji tahun 2019 ditingkatkan lagi dari sebelumnya 75 persen menjadi 100 persen. Hal itu untuk mewujudkan istithaah kesehatan bagi jemaah haji.

“Peran dinas kesehatan provinsi, dinas kesehatan kabupaten/kota dan Puskesmas menjadi sangat penting. Karena hasil pemeriksaan sejak 3 bulan sebelum berangkat, datanya terpantau pada sistem komputerisasi Haji Terpadu Kesehatan. Data itu bisa diakses lewat Kartu Kesehatan Jemaah Haji (KKJH),” katanya.

Ditambahkan, KKJH yang berisi data hasil pemeriksaan dibawa terus oleh jemaah selama menjalankan ibadah. Hal itu memudahkan petugas kesehatan dalam melihat status jemaah haji tersebut.

Nila memuji Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) Kloter yang tahun ini menunjukkan kinerja lebih baik. Hal itu terlihat dari tidak adanya keluhan berarti kepada TKHI mulai berangkat, mendampingi selama berhaji hingga kembali ke Tanah Air.

Pujian serupa disampaikan Menkes kepada Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia (PPIH) embarkasi/debarkasi dan PPIH bidang kesehatan Arab Saudi. Berkat kegiatan yang proaktif, Indonesia dapat tiga penghargaan terbaik.

“Tiga penghargaan itu dari Komite Kantor Urusan Haji, Kementerian Haji Arab Saudi, Director of Health Services, Kementerian Kesehatan Kerajaan Arab Saudi dan Director Clinical Medicine, Kementerian Kesehatan Kerajaan Arab Saudi,” tuturnya. (Tri Wahyuni)