864 Bayi Dipenjara Bersama Ibunya, Erdogan Diprotes Aktivis HAM

0

JAKARTA (Suara Karya): Aksi demonstrasi digelar aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) di Kota New York, Amerika Serikat, terhadap Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan karena dituding telah melanggar hak asasi manusia di negaranya.

Para pendemo mempersoalkan penahanan ratusan bayi dan anak-anak di penjara Turki bersama ibu mereka.

Aksi itu digelar kala Recep Tayyip Erdogan menghadiri Sidang Majelis Umum PBB minggu lalu, seperti dilaporman media Jerman, DW.de, Kamis (3/10/2019).

Menurut para aktivis, ada sekitar 864 bayi di penjara di Turki. Mereka menyebut, beberapa dari anak-anak itu menderita cacat atau dengan kondisi medis yang memerlukan perawatan medis berkelanjutan.

Ratusan aktivis tersebut menggunakan truk & mobil melakukan aksi di jalan-jalan Manhattan, New York. Mereka melakukan orasi dan membawa poster-poster untuk meningkatkan kesadaran dunia tentang adanya pelanggaran hak asasi manusia yang tengah terjadi di Turki.

edia Jerman, DW.de mencatat, pada pertengahan 2019 ini, setidaknya 743 anak di bawah usia 6 tahun harus tinggal di balik jeruji besi di Turki bersama dengan ibu mereka. “Sekitar setengahnya bahkan belum mencapai usia 3 tahun,” kata Saban Yilmaz, yang mengepalai komisi HAM parlemen.

KUHP Turki, menyatakan seharusnya, ibu dengan anak di bawah 6 bulan hukuman penjara mereka ditangguhkan. “Dia lahir pada hari Jumat. Sehari kemudian, kami terpaksa merelakan dia dan ibunya ke penjara,” kata Huseyin Sahnaz, yang istrinya dituduh terlibat dalam organisasi Gulen kepada DW.

Istri Sahnaz, Hatice, akan menghabiskan lebih dari enam tahun di penjara dengan keamanan maksimum dekat kota Antalya, Turki bersama bayi perempuannya.

Kejadian itu membuat Sahnaz sangat mengkhawatirkan istri dan anak bayinya. Bagaimanapun, penjara bukanlah tempat yang ramah bagi ibu dan bayinya. Keduanya harus berbagi sel dengan 30 narapidana lainnya.

Aktivis hak asasi manusia mengatakan anak-anak di bawah 6 tahun harusnya dibebaskan dari hukuman penjara dengan ibunya. Mereka yang dapat hukuman kurang dari lima tahun penjara dapat diizinkan untuk menunda hukuman sampai anak mereka mencapai usia 7 tahun. Salah satu bentuk pengawasannya adalah gelang kaki elektronik guna memantau keberadaan seseorang, bukan menguncinya di penjara.

“Tidak adil anak-anak dihukum karena kejahatan ibu mereka,” kata Huseyin Kucukbalaban, koordinator Asosiasi Hak Asasi Manusia Turki.

Selain di Amerika, ribuan orang juga melakukan aksi damai di Leipzig, Jerman. Mereka mengambil bagian dalam protes menuntut pembebasan anak-anak yang ditahan bersama ibu mereka di penjara Erdogan.

Para pemrotes memegang spanduk bertuliskan “11.000 wanita dan 864 anak-anak di penjara Turki” dan “Bebaskan anak-anak dari penjara”. Aktivis menganggap bahwa memenjarakan anak-anak tanpa tuduhan adalah pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia dan hukum internasional.

Para pendemo menyatakan bahwa wanita hamil dan ibu-ibu Turki mengalami kerusakan psikologis yang signifikan di penjara sebagai akibat dari pemenjaraan sewenang-wenang mereka, menuntut pemerintah Turki untuk membebaskan mereka.

Selain itu, seorang jurnalis Turki, Mesale Tolu, juga ditahan selama berbulan-bulan bersama putranya yang berusia 3 tahun, karena diduga memiliki hubungan Gulen dan akan kembali menjalani persidangan di Istanbul dalam waktu dekat ini. (Tri Wahyuni)