90 Persen Kasus Patah Tulang Bisa Ditangani Tanpa Operasi

0
Foto: (Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Saat cidera, kebanyakan orang memilih pergi ke dukun patah tulang dibanding dokter. Mereka khawatir, penanganan atas kasus cidera yang dialaminya akan berakhir di meja operasi. Padahal, hampir 90 persen kasus patah tulang tak butuh operasi.

“Tulang itu organ tubuh yang paling unik, karena mampu meregenerasi dirinya sendiri secara sempurna,” kata dokter spesialis bedah ortopedi dari Sports, Shoulder, & Spine Clinic, Siloam Hospital Kebon Jeruk (SHKJ), Phedy dalam diskusi media di Jakarta, Rabu (23/1/2019).

Hadir dalam kesempatan itu, Ketua Tim Dokter Sport, Shoulder & Spine Clinic, SHKJ, dr Henry Suhendra dan anggota lainnya yaitu dr Erick Wonggokusuma, dr Langga Sintong, dr Liauw Roger Leo dan dr Charles Siagian.

Tak seperti organ lain, tambah Phedy, tulang memiliki proses regenerasi. Tulang akan sembuh dengan sendirinya seiring dengan waktu. “Hanya saja pada tulang yang patah perlu dibenahi posisinya agar tidak terjadi kesalahan bentuk saat tulang menyatu kembali,” ujarnya.

Kesalahan itulah, menurut dr Phedy, sering ditimbulkan pada pengobatan alternatif patah tulang. Tulang yang disembuhkan menjadi bengkok. Kaki jadi lebih pendek dibanding kaki sebelahnya. Saat berjalan, penderita kesulitan karena pincang.

“Efek dari pengobatan alternatif patah tulang itu jangka panjang. Kebanyakan tulang yang sembuh itu tidak kembali normal atau menjadi bengkok,” ujarnya.

Namun, lanjut Phedy, jika kasusnya masih baru, naka peluang untuk memperbaiki kesalahan masih cukup besar. Tulang bisa dikembalikan ke posisi yang benar dan terlihat normal. “Untuk tulang paha, butuh waktu 20 minggu sudah bagus kembali. Pasien bisa berjalan normal,” katanya.

Jika kasusnya sudah lama berlangsung lama, maka perbaikan kesalahan akan semakin sulit. Apalagi jika tulang susah menyatu, dokter akan memotong kembali dan membersihkan tulang yang tumbuh di sekitar patahan. “Hasil operasinya pun tak sebagus kasus baru,” tuturnya.

Selain tulang yang menjadi bengkok, biasanya posisi sendi juga menjadi salah. Sehingga seringkali kasus patah tulang di paha yang ditangani di alternatif datang dengan lutut yang kaku.

“Pekerjaan jadi semakin banyak. Selain tulang paha, lutut pun harus diperbaiki pula. Posisi tubuh yang miring pun mempengaruhi beban di punggung, sehingga penderita bisa mengalami nyeri tulang belakang,” katanya.

Dr Phedy menyebut cidera yang butuh operasi, antara lain cauda equina syndrome (akar saraf di bagian bawah saraf tulang belakang mengalami tekanan). Gejalanya berupa gangguan buang air besar dan buang air kecil, serta rasa baal di anus.

“Tujuan operasi adalah untuk mencegah kerusakan saraf yang lebih parah. Jika gejala muncul baru beberapa hari, tindakan operasi bisa membuat pulih total. Tetapi jika kasusnya dibiarkan hingga lebih dari 2 tahun, maka sulit kembali normal,” ujarnya.

Berkat teknologi kedokteran yang makin canggih, operasi bisa dilakukan dengan
Tindakan minimal invasif. Sayatan hanya seukuran lubang kancing. Proses penyembuhan pascaoperasi pun jadi lebih cepat.

“Bahkan ada beberapa kasus, pasien hanya perlu menginap satu malam. Pasien hanya menjalani berobat jalan dan fisioterapi untuk proses pemulihan,” kata dr Phedy menandaskan. (Tri Wahyuni)