90 Persen Persoalan Pendidikan Berawal dari Ketidakmampuan Guru

0

JAKARTA (Suara Karya): Pembenahan pendidikan di Indonesia harus dimulai dari tata kelola guru. Karena 90 persen persoalan dalam dunia pendidikan, berawal dari ketidakmampuan guru.

“Karena itu, siapapun nanti mendikbudnya, tata kelola guru harus ditangani secara tuntas,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy dalam acara Malam Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi 2019, di Jakarta, Jumat malam (16/8/2019).

Muhadjir menambahkan, masalah guru hingga kini masih banyak yang harus dibenahi, bahkan dari segala sisi. Jika masalah guru bisa dituntaskan dalam 1 tahun kedepan, maka 50 persen masalah pendidikan dianggap sudah selesai.

“Malah bisa dibilang angkanya bisa lebih dari 50 persen, yaitu 70 persen atau 90 persen dari masalah pendidikan,” ucapnya.

Ia berharap para guru pemenang kompetisi guru berprestasi dan berdedikasi bisa menjadi teladan bagi siswa dan lingkungannya. Caranya, dengan memberi contoh yang benar, baik dalam sikap maupun pembelajaran.

“Materi pembelajaran kini bisa dipelajari siswa dari banyak sumber belajar, tetapi keteladanan dari seorang guru dibutuhkan sebagai role model siswa dan lingkungannya,” ujar Muhadjir.

Mendikbud lalu merujuk pada 8 standar nasional pendidikan (SNP) yang harus dipenuhi satuan pendidikan. Dari delapan poin standar itu, maka poin terpenting itu adalah guru.

“Kalau ada guru bekerja profesional dan memenuhi panggilan hati, maka 7 standar lain dengan sendirinya akan terpenuhi. Jadi berapa pun standar nasional pendidikan yang ingin diraih, maka semua tergantung pada guru,” ucapnya.

Bahkan, lanjut Muhadjir, kurikulum yang sesungguhnya adalah guru. Totalitas kehadiran guru, baik dari penampilan fisik, gestur, ucapan, semua itu adalah bagian dari kurikulum.

“Saya ingin tahu, apakah predikat guru terbaik ini dapat memberi inspirasi bagi guru lain untuk melakukan hal serupa. Jika kepintarannya hanya untuk diri sendiri, maka dia bukan guru yang baik,” tuturnya.

Sementara itu Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), Supriano pada kesempatan yang sama menjelaskan, seleksi guru dan tenaga kependidikan dalam kompetisi ini terbilang sangat ketat dan dilaksanakan berjenjang.

“Seleksinya mulai dari tingkat kabupaten ke provinsi, lalu dilakukan secara nasional. Kita bisa lihat, hasilnya juga merata, ada perwakilan dari tiap provinsi. Artinya kompetensi guru sudah merata,” ujar Supriano seraya menambahkan kompetisi Guru Berprestasi dan Berdedikasi 2019 selama 13-16 Agustus 2019.

Ditambahkan, model pembelajaran yang dihasilkan dari kompetisi inu akan menjadi model bagi guru lain. “Model pembelajaran terbaik (best practices) akan dibukukan, lalu disebarkan ke sekolah-sekolah. Tulisan ini juga akan dimasukan ke websitenKemdikbud agar siapapun bisa mengaksesnya secara online,” ucap Supriano.

Dalam penilaian guru berprestasi, menurut Supriano, pihaknya tak hanya berfokus pada kompetensi teknis dan akademis. Tiga kompetensi lain juga dinilai, yaitu sosial, profesionalitas dan wawasan kependidikan. Uji kemampuan dilakukan melalui tes tertulis.

“Dalam beberapa rangkaian kegiatan para guru dan tenaga kependidikan juga diminta membuat video aktivitas selama mengajar di sekolah untuk diunggah secara daring. Selain itu, ada juga aktivitas permainan dan tugas kelompok,” kata Supriano menandaskan. (Tri Wahyuni)