92 Ribu Peserta SNMPTN Lolos Seleksi

0

JAKARTA (Suara Karya): Hasil Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) baru saja diumumkan. Ada 92.331 peserta yang diterima tahun ini.

“Peserta SNMPTN yang diterima tahun ini memang tak sebanyak tahun lalu, yang mencapai 110.946 orang,” kata Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir dalam jumpa pers terkait SNMPTN 2019 di Jakarta, Jumat (22/3/2019).

Dalam kesempatan itu, Nasir didampingi Sekjen Kemristekdikti, Ainun Na’im, Ketua Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), Ravik Karsidi, Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kemristekdikti, Ismunandar dan Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI), Kadarsyah.

Menristekdikti menjelaskan, turunnya jumlah peserta SNMPTN yang diterima tahun ini karena ada keketatan dalam sistem pendaftaran. Untuk sekolah berakreditasi A, jumlahnya diketatkan dari 50 menjadi 40 persen. Akreditasi B dari 30 menjadi 25 persen. Akreditasi C dan tak terakreditasi menjadi 5 persen.

“Akibat perubahan itu, maka siswa yang berhak mendaftar secara keseluruhan menjadi 478.608 orang. Tahun lalu, jumlahnya mencapai 586.155 siswa,” kata Nasir.

Meski dari sisi besaran menurun, Nasir menegaskan, calon mahasiswa yang diterima pada SNMPTN 2019 justru bertambah secara persentase. Tahun lalu sebesar 18.93 persen, kini berjumlah 19,29 persen. “Kenaikannya memang sangat kecil,” ucapnya.

Soal keketatan dalam pendaftaran, Ketua LTMPT, Ravik mengemukakan, hal itu dilakukan atas hasil kajian bahwa hanya 40 persen siswa di sekolah berakresitas A yang bakal berhasil di perguruan tinggi.

“Karena itu, sejak awal kami batasi pada angka 40 persen, 25 persen dan 5 persen. Jika tak masuk, siswa bisa ikut seleksi di jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN),” tutur Ravik.

Ditambahkan, siswa yang telah diterima pada SNMPTN tak bisa lagi mendaftar di jalur SBMPTN. Hal itu dilakukan untuk meminimalisasi terjadinya kasus kursi kosong.

“Kalau dulu bisa siswa yang diterima di SNMPTN, lalu tiba-tiba berubah pikiran meninggalkan pendaftaran malah ikut ujian di SBMPTN. Hal semacam itu sudah tidak bisa dilakukan. Nama penerimanya kami blok. Ia harus mendaftar ke PTN tujuan,” ucapnya.

Ravik menambahkan, pemblokan nama peserta di SNMPTN dinilai adil, dibanding sanksi kepada sekolah dalam bentuk skorsing. Di masa lalu, satu orang tak jadi mendaftar di SNMPTN, satu sekolah yang menanggung beban karena tak boleh ikut seleksi pada tahun berikutnya.

Tentang program beasiswa Bidikmisi, Menristekdikti menjelaskan, tahun ini diikuti 137.149 siswa. Dari jumlah itu, ada 26.217 siswa yang diterima. “Mulai tahun ini, Bidikmisi dapat diikuti siswa dari luar negeri. Mereka adalah anak-anak dari tenaga kerja indonesia (TKI).

“Kebanyakan anak TKI ini mendaftar di kampus-kampus yang dekat kampung asalnya. Jadi, ketika diterima tidak repot karena mereka bisa menumpang di kerabatnya dulu,” tuturnya.

Tentang program studi saintek yang memiliki keketatan tertinggi, Nasir menyebut, antara lain, teknik informatika, farmasi, pendidikan kedokteran gigi, psikologi, ilmu gizi dan keperawatan. Pada prodi soshum, yaitu manajemen, ilmu komunikasi, akuntansi, sastra Inggris, pariwisata dan hubungan internasional. (Tri Wahyuni)