Adian Napitupulu: Sebelum Kader Demokrat Demo, Belajar Matematika dan Sejarah Dulu

0
Adian Napitupulu. (Ist) 

JAKARTA (Suara Karya): Anggota DPR RI FPDI Perjuangan Adian Napitupulu meminta kader Partai Demokrat untuk belajar Matematika dan Sejarah terlebih dahulu, sebelum melakukan demo soal harga BBM.

“Saya menyarankan kader Demokrat, untuk belajar Matematika dan belajar Sejarah sehingga jika membandingkan, maka perbandingan itu logis. Tidak antilogika dan ahistoris,” kata Adian di Jakarta hari ini.

Terkait hal itu, Adian mengingatkan, bahwa pada era SBY, total kenaikan harga BBM (Premium) adalah Rp4.690. Sementara pada era Jokowi, total kenaikan BBM jenis Premium/Pertalite adalah Rp3.500. “Jadi, SBY menaikan BBM lebih mahal Rp1.190 dari Jokowi,” kata Adian.

Mengenai upah minimum, Adian mengatakan, pada era SBY, upah minimum DKI jakarta misalnya, adalah Rp 2.200.000 pada tahun 2013. Dengan BBM seharga 6.500 per liter, maka upah satu bulan hanya bisa untuk memlebi BBM 338 liter perbulan. Sedangkan pada era Jokowi, dengan BBM Rp 10.000 namun upah minimum adalah Rp 4.641.000 perbulan.

“Dengan demikian, pada era Jokowi, setiap bulan upah pekerja senilai dengan 464 liter BBM. Jadi ada selisih kemampuan upah membeli BBM antara SBY dan Jokowi sebesar 126 liter,” lanjutnya.

Pada era SBY, imbuh Adian, juga masih ada “mafia” terorganisir dan masif, yaitu Petral yang embrionya sudah ada sejak awal orde Baru yaitu tahun 1969 dan beroperasi mulai 1971.

“Sedangkan di era Jokowi, Petral dibubarkan pada 2015 atau hanya enam bulan setelah Jokowi di lantik,” imbuh Adian.

Mengenai pembangunan jalan tol sebagai salah satu infrastruktur penting dalam aktivitas ekonomi, jelas Adian, pada era SBY hanya mampu membangun 193 km jalan tol. Sedangkan di era Jokowi, jalan tol yang dibangun hampir 10 kali lipat dari zaman SBY, yaitu 1.900 km. Kalau mau dihitung lebih detail lagi dari jalan tol, jalan nasional non tol, jalan provinsi, jalan kabupaten hingga jalan desa sepanjang 304.490 Km, maka setiap detik Jokowi membangun tidak kurang dari 1,5 meter jalan kali lebar yang berbeda-beda,” kata dia.

“Dari perbandingan angka-angka tersebut, kata Adian, maka era SBY tentu merupakan era kesedihan bagi semua orang. Kecuali mereka yang berkuasa saat itu,” tutupnya. (Pramuji)