Agar Lebih Tangguh, Siswa SMK Akan Diberi Pendidikan Karakter Kerja

0
?

JAKARTA (Suara Karya): Siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) pada 2020 akan diberi materi pelajaran pendidikan karakter kerja. Hal itu merujuk pada pengalaman industri yang melihat makin banyaknnya lulusan SMK yang bersikap kurang tangguh di dunia kerja.

“Pendidikan karakter kerja ini penting, karena pengalaman menunjukkan orang yang mudah beradaptasi akan berhasil di dunia kerja,” kata Direktur Pembinaan SMK, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Bakhrun di Jakarta, Kamis (8/8/2019).

Bakhrun menambahkan, lulusan SMK dengan keterampilan yang baik, tetapi memiliki karakter kerja yang kurang akan sulit berhasil di dunia kerja. Jika ia memiki karakter kerja yang baik, meski keterampilannya kurang maka peluang untuk berhasil di dunia kerja masih terbuka lebar.

“Keterampilan seseorang akan meningkat seiring dengan waktu, jika punya karakter kerja yang bagus. Karena ia punya keinginan yang kuat untuk maju. Dilatih sedikit saja, langsung bisa memahami,” ujarnya.

Ditambahkan, Kemdikbud saat ini tengah menggodok isi dari buku pedoman pendidikan karakter kerja. Ada 6 materi besar yang akan diberikan, antara lain, team building, kedisiplinan, ketarunaan, kerohanian, minat dan bakat, kontrak belajar dan kontrak lanjutan.

“Nantinya siswa, orangtua dan sekolah akan menandatangani kontrak belajar. Berjanji untuk serius dalam belajar. Sedangkan kontrak kerja rerkait rencana kerja yang akan dilakukan siswa setelah lulus sekolah. Sejak awal, dua hal ini harus jelas, dan dibuatkan kontraknya sehingga tercatat hitam diatas putih,” tuturnya.

Penyusun materi karakter kerja, Bakhrun menyebutkan, ada beberapa narasumber yaitu Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK), industri, TNI dan perguruan tinggi.

Pada kesempatan yang sama, Bakhrun menjelaskan meski SMK masuk dalam sistem zonasi, namun tidak ketat dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Karena pendidikan di SMK berbeda dengan sekolah menengah atas (SMA).

“Ada 146 bidang keahlian di SMK. Tidak mungkin semua bidang ada dalam satu SMK. Setiap SMK punya spesifikasi sendiri. Karena itu, penerapan zonasi tidak ketat, yaitu hanya sekitar 60 persen saja. Sisa kuota boleh diisi oleh siswa dari luar zona,” katanya.

Ditanya apakah SMK kekurangan sekolah, Bakhrun mengatakan, jumlah SMK saat ini malah melampaui target yakni 7.500 SMK pada 2020. Sedangkan jumlah SMK tahun ini sudah mencapai 14 ribu sekolah.

“Pertumbuhan SMK melebihi target karena lebih dari 60 persen sekolah dibangun oleh swasta. Beda dengan SMA yang sebagian besar sekolahnya dibangun dari dana pemerintah,” ujarnya.

Guna menjaga kualitas SMK, menurut Bakhrun, pemerintah kini tengah melakukan pemetaan terhadap SMK. Hal itu dilakukan untuk melihat apakah sekolah berjalan sesuai kaidah yang seharusnya dalam memberi keterampilan pada siswanya. “Bagaimanapun yang dikembangkan itu pembelajaran dengan sistem hands on atau praktik langsung,” katanya.

Ditambahkan, sekolah dengan sarana prasarana tidak lengkap diminta untuk dilengkapi. Jika SMK itu milik swasta, maka yayasan yang bertanggung jawab. Sementara itu jika SMK negeri, maka pemerintah daerah diminta untuk melengkapinya sehingga sekolah yang ada sesuai dengan layanan yang ada. (Tri Wahyuni)