Agar Optimal, SMK Pusat Keunggulan Dapat Pendamping dari PT Vokasi

0

JAKARTA (Suara Karya): Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang terpilih sebagai Pusat Keunggulan (PK) akan dapat pendampingan dari perguruan tinggi (kampus) vokasi selama 3 tahun. Hal itu dilakukan agar program yang dikembangkan di sekolah berkembang secara optimal.

“Lewat pendampingan ini, kampus juga bisa memberi masukan dan rekomendasi terkait peningkatan mutu sekolah,” kata Dirjen Pendidikan Vokasi (Diksi), Kemdikbudristek, Wikan Sakarinto dalam Sosialisasi Program Pendampingan Perguruan Tinggi pada SMK PK 2021, secara virtual, Jumat (21/5/21).

Rekomendasi itu disebutkan, antara lain bisa berupa pengembangan Program SMK D2 Fast Track. Lulusan SMK, nantinya bisa langsung mendaftar kuliah tanpa perlu ikut tes di perguruan tinggi mitra tersebut.

Pendamping yang baik dan ideal bagi SMK PK, menurut Wikan, program studi (prodi) tak harus sebidang, tapi memiliki keterkaitan. Misalkan, jurusan teknik mesin yang tidak saja diisi oleh dosen teknik mesin, tetapi juga bisa diisi oleh dosen ekonomi dan sosial. Mereka nantinya menjadi tim mentoring untuk SMK PK.

“Sebisa mungkin SMK Pusat Keunggulan dan kampus pendamping itu ada di satu daerah, karena penyelenggaraan D2 Fast track untuk menjawab masalah local wisdom,” tuturnya.

Wikan kembali menekankan, lulusan pendidikan vokasi juga harus dibekali sertifikasi kompetensi dan bahasa Inggris, selain ijazah. Karena makna kompeten dalam diksi adalah ‘saya bisa lakukan ini, bukan sekadar saya sudah pernah belajar tentang ini’.

“Jadi selain ‘hard skill’, makna kompeten itu juga mencakup ‘soft skills’ dan karakter,” tuturnya.

Menyoal proses pembelajaran sendiri, Wikan menyatakan, hal itu tidak lepas dari program ‘link and match’ yang berisi paket 8+i. Jadi, tidak sekadar penandatangan kerja sama atau MoU dengan industri.

Ditambahkan, program yang didorong itu mencakup penyelarasan kurikulum satuan pendidikan vokasi dengan industri, pengembangan ‘soft skills’ dengan ‘project base learning’ dan guru tamu dari industri mengajar di satuan pendidikan vokasi (minimal 50 jam per semester per prodi).

Selain itu, masih ada magang minimal satu semester, penerbitan sertifikasi kompetensi, pendidikan dan pelatihan pengajar pendidikan vokasi di industri, riset terapan yang menghasilkan produk untuk masyarakat, serta komitmen serapan lulusan oleh dunia usaha dan industri (DUDI).

“Sedangkan +i merupakan bantuan, beasiswa maupun ikatan dinas yang diberikan oleh DUDI,” ucap Wikan.

Dengan demikian, lulusan pendidikan vokasi disiapkan menjadi “BMW” yakni bekerja, melanjutkan pendidikan dan wirausaha. “Jika ada yang bilang lulusan SMK itu menjadi tukang itu “salah kaprah”. Lulusan SMK tak hanya menjadi tukang, tetapi juga ahli di bidangnya,” kata Wikan.

Sementara itu Direktur SMK, Ditjen Diksi Kemdikbudristek, M Bakrun mengatakan pembentukan SMK PK agar lulusan mudah terserap di dunia kerja atau wirausaha lewat keselarasan pendidikan vokasi dengan dunia kerja. SMK PK nantinya akak jadi rujukan bagi SMK lain di daerah tersebut.

Bakrun juga menekankan hadirnya SMK PK bukan bersifat eksklusif, melainkan mau berbagi ilmu dengan SMK lain di sekitarnya. “Jika SMK PK kualitasnya sudah bagus, maka konsepnya adalah berbagi ilmu ke SMK sekelilingnya,” ujarnya.

Bakrun menjelaskan tujuan khusus SMK PK adalah memperkuat kemitraan antara Kemendikbudristek dengan pemerintah daerah, memperkuat kualitas SDM SMK (kepsek, pengawas, dan guru) serta memperkuat kompetensi keterampilan nonteknis (soft skills) dan teknis (hard skills).

“Semua itu demi realisasi perencanaan berbasis data, meningkatkan efisiensi dan mengurangi kompleksitas dengan platform digital, peningkatan sarana dan prasarana, serta memperkuat kemitraan antara Kemendikbudristek, SMK dan dunia kerja dalam pengembangan dan pendampingan program SMK PK,” katanya.

Jadi, lanjut Bakhrun, pendamping dari perguruan tinggi bisa memperkuat SDM. Pendamping juga dibekali dengan kurikulum baru, perencanaan administrasi secara digital, serta kebijakan baru Merdeka Belajar. Karena itu, dalam tim pendamping terdiri dari ahli komunikasi, marketing dan paedagogik.

Disebutkan, SMK PK terbagi dua jenis, yaitu SMK CoE yang akan dapat bantuan nonfisik dan SMK PK baru yang dapat bantuan dana untuk sarana dan prasarana berupa gedung baru atau renovasi. Sedangkan pembelian peralatan harus mendapat rekomendasi dari pendamping. (Tri Wahyuni)