Ahli Kesehatan Desak Pemerintah Larang Penggunaan Rokok Elektronik

0
?

JAKARTA (Suara Karya): Sejumlah ahli kesehatan mendesak pemerintah untuk segera mengeluarkan larangan peredaran dan konsumsi rokok elektronik (e-cigar). Regulasi tentang e-cigar seharusnya diberlakukan sama sebagai Hasil Produk Tembakau Lainnya (HPTL).

Desakan itu disampaikan dalam forum diskusi yang dihadiri Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan (Kemkes), Cut Putri Arianie dan Staf Ahli Menkes Bidang Pembangunan dan Pembiayaan Kesehatan, Brigjen TNI (Purn) Alexander K Ginting, di Jakarta, Kamis (16/1/2020).

Para ahli kesehatan itu, antara lain, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Agus Dwi Susanto, Pengurus Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Widyastuti Soerojo, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, Sally A Nasution, Anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki), Vito Anggarino Damay.

Selain itu, ada Ketua Tobacco Control Support Center (TCSC)-Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Sumarjati Arjoso, Wakil Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia, Abdillah Ahsan dan Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, Chatarine Mayung.

Sumarjati Arjoso menilai pemerintah telah ‘gagal’ dalam upaya pengendalian tembakau atau rokok. Hal itu terlihat pada data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yaitu jumlah perokok remaja meningkat jadi 9,1 persen. Padahal Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2014-2019 menargetkan 5,4 persen.

“Kondisi itu dikhawatirkan akan semakin memburuk, melihat perkembangan penggunaan rokok elektronik yang juga mengandung nikotin,” ujarnya.

Agus Dwi Susanto menambahkan, rokok elektronik digemari kalangan muda karena dipicu ‘iklan’ yang seolah menyatakan rokok elektronik tidak berbahaya seperti halnya rokok konvensional. Selain juga dikemas dengan aroma tertentu, sehingga rokok elektronik terasa menyegarkan.

“Padahal rokok elektronik justru lebih berbahaya dibanding rokok konvensional. Karena cairannya sering dicampur bahan kimia, yang dapat memicu asma, merusak paru dan jantung serta penyebab kanker. Pada anak usia muda, rokok elektronik dapat menghambat perkembangan otak,” tuturnya

Ditanya soal belum adanya klaim kasus kanker paru pada pengguna rokok elektronik, Agus mengatakan, kasus semacam itu memang belum dilaporkan. Mengingat penggunaan rokok elektronik di Indonesia baru 6 tahun ini.

“Jika tidak dicegah dari sekarang, bukan mustahil kasusnya bakal bermuncul di masa depan. Karena banyak pengguna rokok elektronik berobat di rumah sakit persahabatan dengan gejala pneumonia,” ujarnya.

Melihat kondisi itu, Sumarjati menilai pemerintah perlu segera mengeluarkan peraturan yang jelas terkait pengendalian rokok elektronik. Karena hingga kini belum ada larangan diperjualbelikan hingga promosi. Di sejumlah daerah, yang sudah memiliki aturan KTR (kawasan tidak merokok) dan larangan iklan rokok, masih terpampang ajakan untuk ber”vape” ria dengan bertumbuhnya vape store di pinggir jalan.

“Larangan ini harusnya pada semua sektor, bukan hanya kesehatan. Termasuk perdagangan, kominfo dan sektor lainnya,” ujar Sumarjati.

Sementara itu, Abdillah Ahsan berpendapat pelarangan penggunaan dan peredaean rokok elektronik tidak akan menimbulkan gejolak. Karena kecil jumlah masyarakat yang terdampak aturan tersebut. Larangan penggunaan vape telah dilakukan 40 negara.

“Saat negara lain sudah mengeluarkan larangan, Indonesia justru anteng-anteng saja. Bahkan ada kabar, jika perusahaan rokok elektronik besar dunia akan melakukan penetrasi pasar rokok elektrik di Indonesia. Kalau perusahaan bermodal besar sudah masuk, kondisinya akan semakin sulit dikendalikan,” ujarnya.

Para ahli kesehatan sepakat untuk sama-sama melakukan gerakan penolakan terhadap penggunaan dan peredaran rokok elektronik. Sehingga masyarakat, terutama kalangan muda tahu bahwa rokok elektronik itu sama bahayanya dengan rokok konvensional.

“Orang pindah dari rokok konvensional ke rokok elektronik karena adanya klaim yang salah tentang rokok elektronik, yang katanya lebih sehat. Padahal fakta sebenarnya kedua jenis rokok itu sama berbahayanya. Hal semacam ini harus disosialisasikan agar semua orang tahu fakta tentang rokok elektronik,” ucap Abdillah Ahsan. (Tri Wahyuni)