Ajak Mahasiswa Bangun Start-Up, Kemdikbud Gelar KIBM 2020

0
Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Vokasi, Kemdikbud Wikan Sakarinto saat penutupan KIBM 2020 secara virtual, di Tangerang, Kamis (3/12/20). (Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menggelar Kompetisi Inovasi Bisnis Mahasiswa (KIBM), yang diharapkan tumbuh perusahaan pemula (start-up) berbasis teknologi di kalangan muda.

“Demam start-up mengelora di seluruh dunia. Momentum ini harus dimanfaatkan agar kalangan muda kita tak ketinggalan langkah,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Vokasi, Kemdikbud Wikan Sakarinto saat penutupan KIBM 2020 secara virtual, di Tangerang, Kamis (3/12/20).

Wikan menjelaskan, ajang KIBM tak sekadar mengajak mahasiswa berbisnis tetapi juga memanfaatkan inovasi. Sehingga mahasiswa Indonesia mampu bersaing secara global, tentunya dengan mengoptimalkan potensi lokal dan nasional.

“Peserta KIBM kami tantang untuk menciptakan ide-ide bisnis yang segar dan futuristik, sehingga mampu mengundang investor besar baik dalam maupun luar negeri. Dana yang akan digelontorkan investor asing ke start-up, saya pastikan jumlahnya tak kecil,” ujar Wikan.

Ditambahkan, inovasi dan peningkatan pendapatan serta Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) adalah keniscayaan bagi generasi muda Indonesia. Lewat KIBM 2020, mahasiswa diajak mengubah pola pikirnya kalau belajar itu jangan sekadar mengejar ijazah.

“Kami ingin generasi muda Indonesia memiliki mindset sebagai pemimpin dunia masa depan melalui kreativitas, produktivitas, inovasi serta penciptaan produk. Itulah yang akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar,” ujarnya.

KIBM 2020 adalah salah satu agenda lomba kemahasiswaan tingkat nasional dengan tujuan membangun semangat kewirausahaan serta memperkuat jejaring antar akademisi, bisnis dan pemerintah. Di tengah pandemi covid-19, KIBM 2020 digelar secara daring.

Panitia KIBM 2020 menyebutkan ada 1.141 proposal untuk tiga bidang akademik yaitu universitas, institut dan sekolah tinggi), bidang vokasi seperti politeknik, serta bidang disabilitas. Hasil evaluasi tim juri, terpilih 272 proposal. Mereka akan mendapat dana stimulus Rp5-15 juta per proposal.

“Dari 272 proposal yang terpilih, ada 202 proposal dari bidang akademik, 59 bidang vokasi dan 11 bidang disabilitas,” kata Wikan yang mengaku kagum terhadap penyandang disabilitas karena mampu membangun motivasi dan percaya diri meski memiliki keterbatasan.

Para pemenang dari kompetisi yang digelar sejak 30 Agustus hingga 9 November 2020 itu nantinya saat menjalankan bisnisnya akan dipandu oleh satu dosen pembimbing. Mereka juga dapat konsultasi potensial HaKi atas karyanya.

Sebagai bentuk apresiasi, Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kemdikbud memberi piagam kepada 5 tim terbaik dari masing-masing bidang. Terbaik pertama bidang vokasi diraih Universitas Brawijaya dengan nama usaha MYECO. Terbaik kedua diraih Politeknik Negeri Lhokseumawe dengan nama usaha Coffee Pomade, serta terbaik ketiga Politeknik Negeri Malang dengan nama usaha The Kulit Jeruk (O’Pele).

Untuk bidang akademik, terbaik pertama diraih Universitas Udayana dengan nama usaha Wijaya Vegetables, terbaik kedua Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dengan nama usaha PUSTOC, dan terbaik ketiga Universitas Buana Perjuangan Karawang dengan nama usahanya UBEPE Kreatif Mandiri.

Sementara bidang disabilitas, terbaik pertama diraih Universitas Agung Podomoro dengan nama usaha Technical Tools, terbaik kedua Universitas Negeri Surabaya dengan nama usaha ADEN: Re Branding Product Fres-Frozen Food dan terbaik ketiga Universitas Tidar dengan nama usaha Kaos Juga Bisa Berkata. (Tri Wahyuni)