Ajak Para ‘Inventor’ Bergabung, AII Siap Bantu Proses Hilirisasi Produk

0

JAKARTA (Suara Karya): Asosiasi Inventor Indonesia (AII) siap membantu para inventor untuk hilirisasi produk. Sehingga temuan tak hanya berhenti sampai di paten atau HaKi (Hak atas Kekayaan Intelektual), tetapi menjadi produk komersial.

“Saya melihat banyak temuan yang dipatenkan, tetapi sedikit sekali yang menjadi produk komersial,” kata Ketua Umum AII, Prof Didiek Hadjar Goenadi dalam keterangan pers di kebun Kelapa Kopyor milik Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri, Ciomas, Bogor, Sabtu (30/10/21).

Prof Goenadi mengungkapkan, kendala yang dihadapi inventor dalam proses hilirisasi produk adalah keterbatasan dana. Hasil temuan itu kebanyakan berhenti hingga tingkat kesiapanterapan teknologi atau Technology Readiness Level (TRL) 7.

“Sementara industri hanya mau kerja sama jika temuan sudah TRL 8-9. Padahal, untuk mencapai TRL 8-9, butuh waktu, uang dan tenaga yang besar juga. Akhirnya, temuan berharga hanya disimpan dalam laci meja kerja,” kata Prof Goenadi yang menganalogkan kondisi TRL 7-8 sebagai lembah kematian (death valley) bagi inventor.

Untuk itu, lanjut Prof Goenadi, AII akan membantu para inventor agar tak terjadi lagi ‘syndrome of the death valley’. AII akan mempertemukan para inventor dengan investor untuk hilirisasi produk. Problem syndrome of the dealth valley akan dibahas tuntas pada acara webinar yang akan diadakan pada tanggal 10 November 2021.

“Tahun ini, AII bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) untuk hilirisasi produk ‘hasil grand riset sawit (GRS)’. Terutama pada ‘invensi’ yang berhubungan dengan kelapa sawit,” katanya.

Ditanya soal keanggotaan, Prof Goenadi mengatakan, secara otomatis mereka yang terdaftar dalam HaKi bisa menjadi anggota AII. Namun, keanggotaan itu hanya berlaku bagi warga negara Indonesia (WNI).

“Karena cukup banyak juga warga negara asing yang mendaftarkan temuannya di lembaga ‘KI’ di Indonesia. Para peneliti Indonesia diharapkan tidak bisa hanya sekadar sebagai peneliti, tetapi perlu punya temuan yang berpeluang komersil. Para inventor ini tak perlu mendaftar, keanggotaannya berlaku otomatis asalkan WNI,” ujarnya.

Prof Goenadi memperkirakan jumlah inventor di Indonesia mencapai 10 ribu orang. Jumlah itu terbilang kecil dibandingkan China yang pendaftaran KI-nya mencapai 268 ribu paten per tahun.

Terkait banyaknya paten yang sulit dikembangkan menjadi produk komersial, Prof Goenadi mengatakan, karena banyak inventor yang membuat temuan tanpa memikirkan kalau hal itu berpotensi ekonomi atau tidak. Sehingga paten tersebut hanya dicatat, tanpa pernah dikomersialkan.

“Saya mengimbau pada para peneliti yang punya ide-ide cemerlang, untuk sering berkunjung ke lembaga paten
(patent search) agar punya gambaran produknya tersebut sudah pernah dipatenkan orang lain. Sehingga tidak lagi buang waktu membuat temuan yang pernah dibuat orang lain,” tuturnya.

Selain itu, lanjut Prof Goenadi, buat temuan yang berpotensi ekonomi. Jadi ketika temuan tersebut menjadi produk jadi akan dilirik oleh investor. “Bukan asal bikin invensi, tapi buatlah yang bernilai ekonomi nyata. Apalagi produk tersebut memang bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.

Hadir dalam kesempatan itu, Direktur Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Edi Wibowo, Sekjen AII, Dr Jonbi; Bendahara AII Chandra Manan Mangan; Ketua Bidang Kerja Sama, Muhammad Ibnu Fajar; Ketua Bidang Valuasi dan Komersialisasi Teknologi, Ade Rintoro, dan Ketua Bidang Keanggotaan Dr Laksmita Prima Santi. (Tri Wahyuni)