Akademisi: Wartawan Indonesia Terjebak dalam ‘Door Stop Journalism’

0
Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung menjelaskan pentingnya trust bussiness bagi media dan dunia peradilan di Indonesia.

JAKARTA (Suara Karya): Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung yang juga mantan wartawan KompasTV, Abie Besman, menyatakan telah terjadi fenomena kurang baik pada wartawan dalam membuat sebuah pemberitaan.

“Selama ini, wartawan Indonesia terjebak ‘door stop journalism’, satu sumber digunakan beramai-ramai, tapi hasil liputannya tidak mendalam,” ujar Abie, dalam acara workshop Sinergisitas Komisi Yudisial (KY) dengan Media Massa, dengan materi pembahasan “Peran Media Massa dalam Literasi Peradilan yang Bermartabarat”, di Bandung, Jawa Barat, Kamis (18/7/2019).

Dia pun membandingkan dengan wartawan di luar negeri dalam membuat sebuah berita. Menurut Abie, di luar negeri sedang berkembang ‘slow journalism’. “Jadi isu dibahas secara lengkap walaupun memang jadinya lama. Tapi nanti dibacanya malah menarik. Sedangkan di Indonesia, hal seperti itu baru beberapa media yang melakukannya,” katanya menambahkan.

Pada kesempatan tersebut, Abie juga memaparkan soal pentingnya ‘trust bussiness’ bagi media dan dunia peradilan di Indonesia. Bahwa dunia media dan peradilan di Indonesia memiliki persamaan, yaitu mengelola trust bussiness. Tanpa ada kepercayaan dari publik, mustahil hal yang dicita-citakan akan terwujud.

Dalam menyajikan berita, wartawan tidak harus bersikap netral, tapi berimbang. Oleh karena itu, sebelum memberitakan sesuatu, wartawan harus melalukan cover bothside secara bersamaan.

“Karena jika tidak bersamaan, berita counter akan kalah dengan berita yang pertama keluar. Apalagi kecenderungannya orang mendengar apa yang mau didengar, berputar-putar di isu yang sama. Perlu digarisbawahi, berimbang disini artinya level narasumbernya harus sama. Sebab jika level narasumbernya berbeda, malah jadi tidak imbang,” jelas Abie dalam

Proses dalam melakukan liputan adalah ‘make friends with everyone’, ‘expect the unexpected’, dan pahami hak dan kewajiban.

Abie menyatakan rekan media yang hadir dalam workshop kali ini sudah sangat luar biasa, sebab banyak wartawan di luar sana tidak mau belajar.

“Bahkan di luar negeri terutama di Inggris, seorang jurnalis untuk meliput di peradilan harus memiliki sertifikat khusus. Yang paling penting, dalam mengelola berita, media harus menggunakan kecerdasannya dan kebijaksanaannya dalam menyiarkan informasi,” ujarnya lebih lanjut. (Gan)