Akurasi 93 Persen, Alat Deteksi Covid-19 GeNose UGM Dapat Izin Edar

0

JAKARTA (Suara Karya): Alat deteksi corona virus disease (covid-19) lewat pernafasan yang dikembangkan Universitas Gadjah Mada (UGM), GeNose C19 akhirnya mendapat izin edar dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dengan nomor AKD 20401022883.

“GeNose C19 siap diproduksi massal, apalagi sudah ada permintaan dari masyarakat,” kata Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (Menristek/BRIN), Bambang Brodjonegoro dalam keterangan pers, Senin (28/12/20).

GeNose C19 dikembangkan UGM atas dukungan dari Konsorsium Riset Inovasi Covid-19 Kemenristek/BRIN, Badan Intelejen Negara, TNI AD, Polri, Kemenkes, dan pihak swasta seperti PT Yogya Presisi Tehnikatama Industri (bagian mekanik), PT Hikari Solusindo Sukses (elektronik dan sensor), PT Stechoq Robotika Indonesia (pneumatic), PT Nanosense Instrument Indonesia (artificial intelligence, elektronik dan after sales) dan PT Swayasa Prakarsa (assembly, perizinan, standar, QC/QA, bisnis).

Karya anak bangsa lainnya yang juga dapat izin edar dari Kemenkes adalah rapid test antigen CePAD oleh Universitas Padjajaran. Alat deteksi covid-19 lewat nasal (swab) tersebut telah mengantongi Izin Edar Kemenkes dengan nomor AKD 20303022358 sejak 4 November 2020 lalu.

Menristek Bambang Brodjonegoro mengaku bangga atas keberhasilan dua produk inovasi yang dikembangkan perguruan tinggi, hingga meraih izin edar dari Kemenkes. Hal itu menunjukkan Indonesia memiliki kemandirian dalam penanganan covid-19, terutama dalam melakukan skrining virus.

“Keberhasilan GeNose C19 dan Deteksi CePAD merupakan contoh keberhasilan ‘triple helix’ yang melibatkan pemerintah, akademisi dan industri,” tuturnya.

Bambang menjelaskan, GeNose C19 pada tahap awal telah diproduksi sekitar 100 unit. Dengan jumlah terbatas itu, diharapkan dapat medeteksi sekitar 12.000 orang per hari. Alat tersebut akan dijual sekitar Rp62 juta per unit.

“Kami menargetkan jumlah produksi hingga Februari 2021 sebanyak 10 ribu unit. Alat tersebut akan didistribusikan ke seluruh Indonesia,” ujarnya.

Disebutkan, GeNose memiliki sensitifitas 90 persen, spesifisitas 96 persen, akurasi 93 persen dengan PPV 88 persen, dan NPV 95 persen. GeNose C19 mendeteksi keberadaan virus SARS-CoV-2 di orofaring atau tenggorokan lewat hasil metabolisme ‘Volatile Organic Compound’ (VOC) atau semacam senyawa hidrokarbon kompleks yang diproduksi dari hasil metabolisme virus.

Berbeda dengan ‘swab test’ PCR yang membutuhkan waktu pemeriksaan hingga beberapa hari, GeNose C19 dapat mendeteksi covid-19 hanya dalam hitungan detik dan tidak menimbulkan rasa sakit. Analisis datanya memakai Kecerdasan Artifisial (AI) dengan biaya per test berkisar Rp15-25 ribu.

“Penggunaan GeNose diharapkan meningkatkan kapasitas skrining covid-19 di masyarakat. Karena selain murah dan cepat, prosesnya tak membutuhkan reagen atau bahan kimia lainnya,” kata Bambang.

Menurut Bambang, fleksibilitas alat GeNose C19 sehingga memungkinkan untuk ditempatkan di bandara, stasiun, terminal, rumah sakit, perkantoran dan tempat umum lainnya seperti tempat wisata dan pusat perbelanjaan. Diharapkan, masyarakat dapat beraktifitas dengan aman dan nyaman untuk pemulihan ekonomi.

Tentang Deteksi CePAD, Menristek menjelaskan, alat tersebut menggunakan metode deteksi antigen bukan ‘antibody’ seperti yang selama ini dipergunakan untuk mendeteksi covid-19. Alat deteksi i diberi nama Deteksi CePAD) sesuai semboyan ‘Biar CePAD Asal Selamat’.

Alat CePAD mendeteksi keberadaan antigen virus dari sampel nasal swab pada saat viral loadnya sedang tinggi (most infectious), sehingga bermanfaat untuk mengurangi potensi penyebaran penyakit. Ketika divalidasi pada sampel klinis dan dibandingkan dengan PCR pada Ct ‘value’ < 28, CePAD memiliki sensitivitas 85 persen, spesifisitas 83 persen, dan akurasi 84 persen, dengan PPV 61 persen dan NPV 95 persen.

“Hasil deteksi CePAD sudah melampaui ‘requirement’ akurasi untuk antigen test dari WHO yaitu > 80 persen,” tuturnya.

Keunggulannya dari CePAD adalah harga jauh lebih murah dari PCR Test, prosesnya relatif cepat sekitar 15 menit dengan tingkat akurasi yang tinggi. Tentunya harus dilihat lagi dari sensifitas dan spesifitasnya.

“Antigen test ini sudah direkomendasikan WHO dan mendapat rekomendasi dari Perhimpunan Patologi Klinis Indonesia. Si CePAD juga sudah digunakan beberapa Rumah Sakit di Jawa Barat seperti RS Pendidikan Unpad, Lab Kesehatan Pemprov Jabar dan RS Sentosa Bandung,” katanya.

Ditambahkan, CePAD juga dilengkapi dengan sistem Trace (Portal CePAD ), yang mana setiap unit memiliki barcode yang dapat terkait dengan NIK dan masuk dalam database. Hal itu dapat mempercepat aksi untuk penanganan orang yang terdeteksi positif covid-19 dan pembatasan penularan penyakit.

“CePAD telah diproduksi oleh PT Pakar Biomedika Indonesia dengan kapasitas produksi mencapai 500 ribu unit per bulan dab distributor CePAD dilakukan PT Usaha Bersama Jabar,” katanya.

Hadir dalam acara keterangan pers itu, Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono, Ketua Satgas Penanganan Covid-19/Kepala BNPB Doni Monardo, Kepala Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Muhammad Fadjroel Rachman, Kepala LKPP Roni Dwi Susanto, Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Cecep Herawan, Deputi Bidang Koordinasi Pengembangan Usaha BUMN, Riset dan Inovasi Kemenko Bidang Perekonomian Montty Giriana.

Selain itu masih ada Dirjen Pendidikan Tinggi Kemdikbud Nizam, Rektor UGM Panut Mulyono, Wakil Rektor Universitas Gadjah Mada Bidang Kerja Sama dan Alumni Paripurna P Sugarda, Rektor Universitas Padjadjaran Rina Indiastuti, Tim Riset GeNose C19 UGM dan Tim CePAD Unpad, Ketua Konsorsium Riset Inovasi COVID-19/Staf Ahli Bidang Infrastruktur Kemenristek/BRIN Ali Ghufron Mukti. (Tri Wahyuni)