Alfian Edgar, Mantan Juara OSN ini Berhasil Tembus Harvard

0

JAKARTA (Suara Karya): Alfian Edgar Tjandra (18), siswa kelas XII Sekolah Kharisma Bangsa, Pondok Cabe, Tangerang Selatan ini kembali mengharumkan nama Indonesia. Pria pemilik beragam prestasi dalam kompetisi matematika itu berhasil menembus kedigdayaan Harvard University, Amerika.

“Prestasi Alfian semoga bisa menjadi pijakan bagi siswa lain. Ini pertama kalinya siswa kami diterima Harvard,” kata Kepala SMA Sekolah Kharisma Bangsa, Pondok Cabe, Imam Husnan Nugroho disela peringatan ulang tahun Sekolah Kharisma Bangsa, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Minggu (7/4/2019).

Edgar menuturkan, saat masih kecil cita-citanya adalah pemain tenis profesional. Pernah cedera saat berlatih, ia langsung mengubur keinginannya menjadi atlet tenis. Edgar lalu mendalami matematika yang sudah disukainya sejak taman kanak-kanak (TK).

“Saya suka matematika sejak usia TK, setelah dapat hadiah games bernama “Think Fun” dari ibu. Permainan itu mengajarkan matematika, dengan cara bermain logika. Belajar matematika jadi terasa menyenangkan,” tutur anak bungsu dari 4 bersaudara atas pasangan Tjandra dan Roslidar Basir.

Prestasi Edgar di bidang matematika terus berlanjut hingga meraih beragam prestasi, baik tingkat nasional maupun internasional. Disebutkan, medali perak pada kompetisi International Mathematic and Science Olympiad (IMSO) jenjang SD di India. Medali perak pada kompetisi olimpiade matematika tingkat SMP di Bulgaria pada 2013.

“Pada 2014, ikut Olimpiade Sains Nasional (OSN) matematika tingkat SMP dan meraih medali perunggu. Pada 2015, dapat medali perunggu pada kompetisi matematika di Rumania. Pada 2017, saya ikut OSN tingkat SMA, dan berhasil raih emas,” katanya.

Selain mendaftar ke Harvard, Edgar juga mencoba peruntungan di 3 kampus asing ternama lainnya. Tiga kampus lainnya juga dinyatakan lolos seleksi yaitu National University of Singapore (NUS), Nanyang Technological University (NTU) Singapore dan Carnegie Melon University, Kanada.

“Tiap negara punya sistem penerimaan mahasiswa baru yang berbeda-beda. Di Singapura, kita diterima kalau nilai tes-nya diatas batas yang ditetapkan. Tapi kalo di Amerika, nilai SAT (Scholastic Assessment Test) harus mendekati batas 1600. Nilai saya 1520,” tuturnya.

Potensi diterima semakin tinggi jika calon mahasiswa memiliki keseimbangan hidup lewat kegiatan yang dilakukan selain belajar. Terkait hal itu, Edgar menyukai tenis dan naik gunung.

Ditambahkan, calon mahasiswa juga diminta membuat 3 essay dengan tema yang berbeda-beda. Edgar menulis pengalamannya saat naik gunung Rinjani. Gagal pada pengalaman pertama, lalu bertekad diet, pada tahun berikutnya naik Rinjani lagi dan berhasil sampai puncak.

“Dalam essay saya gambarkan kegagalan pertama mampu memicu saya menjadi lebih baik. Sehingga berhasil di pendakian berikutnya. Essay kedua soal kegiatan lain selain belajar di sekolah dan essay ketiga soal kegiatan saya sebagai volunteer dengan sesama alumni OSN,” katanya.

Ditanya soal kegiatan di waktu luang, Edgar menyebut bermain games. Namun, ia mengaku tak kecanduan. Ia dapat mengatur waktu, kapan harus belajar dan bermain games.

Tentang program studi yang akan diambil di Harvard, Edgar akan memilih program computer science. “Beda dengan sistem penerimaan di Indonesia. Program studi baru bisa dipilih setelah mahasiswa kuliah selama semester. Jadi saat ini saya belum memilih prodi. Tetapi saya suka computer science,” kata pemilik kelahiran 3 April 2001 itu menandaskan. (Tri Wahyuni)