Anak dari Keluarga Perokok Ternyata Rentan Terkena Stunting

0

JAKARTA (Suara Karya): Para orangtua diingatkan untuk mulai berhenti merokok dari sekarang. Hasil analisis data yang dilakukan Indonesian Family Life Survey (IFLS) menunjukkan anak dari keluarga perokok cenderung tumbuh lebih pendek atau stunting.

“Sebenarnya ada 3 faktor penyebab utama terjadinya stunting, bukan cuma soal rokok. Tetapi kajian IFLS tak boleh diabaikan begitu saja,” kata peneliti utama SEAMEO (South East Asia Ministers of Education Organization) REFCON (Regional Center for Food and Nutrition), Umi Fahmida dalam diskusi media soal gizi di Jakarta, belum lama ini.

Umi menyebut 3 faktor penyebab stunting yaitu asupan gizi anak yang kurang. Hal itu biasanya terjadi, karena orangtua hanya memberi makanan yang disukai anaknya. Sehingga menunya biasanya itu-itu saja dan minim konsumi buah dan sayur.

“Orangtua memainkan peran penting dalam menjaga asupan gizi anak. Untuk itu, pentingnya orangtua tidak malas dalam mengolah aneka bahan pangan menjadi sajian yang disuka anak. Karena kebiasaan sehat itu mencontoh dari orangtua,” ujarnya.

Faktor kedua, anak sering sakit-sakitan sehingga penyerapan zat gizi tidak optimal. Kondisi itu umumnya terjadi karena ada faktor lain di tingkat komunitas seperti akses atas layanan kesehatan, ketersediaan pangan dan kesehatan lingkungan.

Ketiga adalah pengaruh pola pengasuhan keluarga. Diingatkan keluarga itu tak hanya ibu, tetapi juga bapaknya. Dari tiga faktor tersebut, keluarga memiliki pengaruh yang cukup besar. “Termasuk urusan merokok yang tidak sehat itu,” ujarnya.

Meski tidak sehat, lanjut Umi, belanja rokok di Indonesia menjadi pengeluaran terbesar ketiga dalam rumah tangga. Angkanya mencapai 12,4 persen dari total pengeluaran. Itu setara dengan jumlah uang yang dibelanjakan untuk sayur mayur (8,1 persen) serta telur dan susu (4,3 persen).

“Bayangkan, jika yang 12 persen itu disisihkan. Itu akan memberi kontribusi untuk keragaman pangan yang bermanfaat bagi peningkatan gizi anak. Uang dibelikan untuk bahan pangan yang dibutuhkan anak,” ujarnya.

Menurut Umi, stunting hingga kini masih menjadi masalah gizi utama bagi bayi dan anak dibawah 5 tahun di Indonesia. Kondisi itu harus segera dientaskan untuk mempersiapkan generasi emas Indonesia 2045.

Untuk itu, kata Umi, pihaknya akan melakukan kajian bersama The Union-Bloomberg untuk menilai potensi peningkatan pajak dan cukai rokok dan pemanfaatannya untuk program gizi, terkait stunting di Indonesia.

Hal senada dikemukakan Manajer Riset dan Konsultasi SEAMEO REFCON, Grace Wangge. Stunting harus dientaskan karena akan menjadi masalah trans-generasi. Ibu yang pendek cenderung memiliki anak stunting.

“Balita stunting memiliki daya saing yang lebih rendah dibanding balita sehat, karena rendahnya fungsi kognitif mereka. Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan pendidikan gizi kepada publik. Untuk itu pentingnya ‘support system’ baik melalui pendidikan anak usia dini (PAUD) maupun sekolah,” kata Grace menandaskan. (Tri Wahyuni)