Ancam Eksistensi Bangsa, NU Circle Sebut 10 Kesalahan RUU Sisdiknas

0

Ancam Eksistensi Bangsa, NU Circle Sebut 10 Kesalahan RUU Sisdiknas

JAKARTA (Suara Karya): Jaringan Masyarakat Profesional Santri (NU Circle) menyebut 10 kesalahan dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang diinisiasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek).

“Revisi UU Sisdiknas tersebut tak hanya berdampak pada pendidikan nasional, tetapi juga meruntuhkan jati diri bangsa Indonesia,” kata Ketua Bidang Kajian dan Riset Kebijakan Pendidikan NU Circle, Ki Bambang Pharmasetiawan dalam siaran pers, Kamis (17/3/22).

Menurut Ki Bambang, kesalahan pertama RUU Sisdiknas adalah dimarginalkannya peran agama dalam membangun moralitas anak Indonesia dan peradaban bangsa. Agama tidak dianggap sebagai sesuatu yang penting dan strategis.

“RUU Sisdiknas yang dibuat di era Mendikbudristek Nadiem Makarim ini sangat berbahaya bagi kebangsaan. Alih-alih ingin membentuk Profil Pelajar Pancasila, isi RUU justru menjerumuskan cita-cita luhur para pendiri bangsa. RUU tersebut bahkan bertentangan dengan Pembukaan UUD 1945,” ucapnya.

Ditambahkan, agama hanya menjadi faktor penjelas dalam non-diskriminatif. “Ini berbahaya. Sebab, sila pertama Pancasila itu Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan non diskriminatif,” katanya.

RUU Sisdiknas, lanjut Ki Bambang, juga memiliki grand design yang memposisikan pendidikan nasional sebagai komoditi. Pendidikan masuk dalam ranah bisnis dan perdagangan.

“Dalam RUU Sisdiknas terlihat dengan jelas pemerintah ingin melepaskan tanggung jawab dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Padahal, dalam pembukaan UUD 1945, negara memiliki tanggung jawab dalam mencerdaskan kehidupan bangsa,” tuturnya.

Kesalahan keempat dari RUU Sisdiknas adalah pemerintah membangun standar pendidikan nasional yang jauh lebih buruk dibanding ‘pabrik batu bata’. Karena sistem ‘thinking’ tidak dibangun dalam RUU tersebut.

“Mau dibawa kemana anak-anak Indonesia, jika RUU Sisdiknas ini telah disahkan,” ujar pengasuh acara forum diskusi (talk show) Ngopi Seksi NUC-Vox Populi itu menegaskan.

Kesalahan kelima dari RUU Sisdiknas, disebutkan, membentuk manusia Indonesia yang individualis. Sehingga tidak terbangun manusia Indonesia sebagai warga negara yang mencintai bangsa dan Tanah Airnya.

Keenam, UU Sisdiknas juga menanamkan Pancasila sebagai doktrin. Bukan sebagai sistem nilai luhur bangsa Indonesia yang kemudian menjadi dasar negara Indonesia.

“RUU membangun perspektif Pancasila sebagai doktrin. Ini tak ubahnya seperti pemerintahan Orde Baru,” katanya.

Ketujuh, RUU Sisdiknas menjauhkan anak-anak Indonesia dari identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Anak Indonesia dijejali budaya asing atas nama kebhinekaan global dengan kewajiban berbahasa asing, sehingga menihilkan kebudayaan Nusantara.

Kedelapan, RUU Sisdiknas dikemas sebagai kebijakan terpusat sehingga bias terhadap otonomi daerah.

Kesembilan, RUU Sisdiknas didesain dengan menghilangkan tujuan bernegara. Pendidikan seharusnya menjadi salah satu instrumen utama untuk mempertahankan bangsa dan negara Indonesia. Bukan melepaskan tujuan berbangsa dan bernegara.

Kesepuluh, RUU Sisdiknas gagal mendefinisikan Sistem Pendidikan Nasional. “Jika definisi Sistem Pendidikan Nasional saja sudah gagal, bagaimana Mendikbudristek Nadiem Makarim bisa memahami fungsi dan tujuan pendidikan nasional,” kata Ki Bambang seraya mengaku prihatin atas penyusunan draft RUU Sisdikan tersebut.

Menurut Ki Bambang, faktual dari pasal per pasal seluruh bangunan RUU Sisdiknas gagal memahami peran strategis pendidikan dalam membangun kebangsaan dan ke-Indonesiaan.

“RUU Sisdiknas ini sudah gagal sejak dalam pikiran Mendikbudristek. Jadi NU Circle memberi rekomendasi agar RUU Sisdiknas tidak digunakan, karena mengancam eksistensi bangsa Indonesia dan mengancam masa depan manusia Indonesia,” katanya menegaskan.

Pengamat pendidikan Indra Charismiadji dalam kesempatan terpisah menyatakan, bangsa ini harus bangkit dan peduli pada masa depan anak cucu. “Untuk itu, mari bersama kita kawal RUU Sisdiknas agar sesuai dgn harapan seluruh bangsa, bukan atas kelompok tertentu,” ujar Indra. (Tri Wahyuni)