Anggota DPR Sebut “Holding” Pangan Bisa jadi Terobosan Besar

0
Anggota Komisi VI DPR RI Nevi Zuairina. ANTARA/HO-Humas Fraksi PKS

JAKARTA (Suara Karya): Anggota Komisi VI DPR RI Nevi Zuairina menyatakan rencana pemerintah membentuk perusahaan induk (holding) BUMN pangan dengan PT Rajawali Nusantara Indonesia atau RNI sebagai ketua holding-nya bisa menjadi terobosan besar.

“Saya melihat bila perusahaan holding ini terealisasi akan menjadi terobosan besar untuk memecah persoalan pangan yang hingga saat ini banyak terkendala berkaitan persoalan data, produksi, distribusi dan transit antardaerah,” katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu.

Menurut Nevi, efektivitas anggaran negara yang digelontorkan terkait pangan sangat besar dan banyak masyarakat yang berharap agar kekuatan alam negara ini dikelola dengan baik, sehingga Indonesia terbebas dari jeratan impor pangan.

Untuk itu, ujar dia, RNI juga harus memberikan bukti dengan roadmap (peta jalan) yang jelas kepada publik mengenai arah holding pangan tersebut.

“Begitu pula berkaitan dengan pengelolaan anggaran harus mampu diperbaiki dari tahun-tahun sebelumnya, sehingga menjadi perusahaan yang efektif, efisien dan berkontribusi pada negara serta rakyat Indonesia,” kata Nevi.

Ia mengutarakan harapannya agar holding BUMN pangan dapat segera terealisasi dalam kondisi dan keadaan ideal baik secara visi, misi, dan implementasi.

Sementara itu, Anggota Komisi VI DPR Mohammad Toha menginginkan BUMN pangan tersebut didorong untuk memperkuat langkah-langkah revitalisasi pabrik gula di sejumlah daerah.

“Lakukan revitalisasi pabrik gula dan restrukturisasi organisasi dengan tujuan memperbaiki kinerja perusahaan guna memenuhi kebutuhan gula dalam negeri,” katanya.

Ia mengungkapkan berdasarkan data yang diterima Komisi VI DPR dari RNI, produksi gula sampai akhir 2020 diproyeksikan mencapai 238.485 ton atau mengalami penurunan delapan persen dari 2019 sebanyak 260.390 ton.

Untuk itu, ujar dia, bila perbaikan kinerja PT RNI, yang merupakan Ketua Klaster BUMN Pangan, sudah dilakukan dengan baik, khususnya pada peningkatan produksi gula, maka tidak perlu impor gula lagi.

“Impor gula dapat kita tekan dengan perbaikan kinerja PT RNI,” tegasnya. (M Chandra)