Antisipasi Lonjakan Pasien Covid-19, RSUP dr Kariadi Siapkan Gedung Khusus

0
(Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni)

JAKARTA (Suara Karya): Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP), dr Kariadi menyiapkan satu gedung berkapasitas 300 tempat tidur, sebagai langkah antisipasi lonjakan pasien corona virus disease (covid-19). Selain itu, disiapkan pula 150 ruang isolasi dan alat pelindung diri (APD) dalam jumlah yang cukup untuk tenaga medis.

Demikian dikemukakan Direktur Utama RSUP dr Kariadi, Agus Suryanto saat menerima kunjungan Tim Task Force Penanganan Covid-19 wilayah Jawa Tengah yang dipimpin Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Peningkatan Pelayanan Jajang Edi Priyatno di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (17/9/20).

Agus menambahkan, persiapan lainnya adalah 16 ruang ICU (Intensif Care Unit), yang mana 2 ruang ICU untuk anak-anak dan 14 ruang ICU lainnya untuk dewasa. Kondisinya saat ini, 5 ruang ICU masih dalam keadaan kosong, tidak ada pasien.

“Penanganan pasien covid-19 ini bersifat dinamis. Jika saya bilang kosong, belum tentu pada 5 jam kedepan. Seperti kejadian minggu lalu, dari 150 tempat tidur yang tersedia, sempat terisi maksimum meski tidak sampai penuh,” tuturnya.

Kendati menjadi Rumah Sakit Rujukan COVID-19 lini pertama di wilayah Jawa Tengah, Agus memastikan ruangan isolasi di RSUP dr Kariadi masih mencukupi kecuali ruang ICU. Karena pihak RS akan melakukan upaya agar setiap pasien yang dirujuk mendapat kepastian kamar dan dapat ditangani dokter dengan baik.

Agus menyatakan, ketersediaan tempat tidur mendapat dukunhan dari jaringan rumah sakit di Semarang. Setiap rumah sakit membantu dengan cara menyumbangkan 2 tempat tidur untuk rumah sakit yang penuh. Cara ini digunakan untuk mengurangi beban di rumah sakit terkait.

Berbicara soal diagnostik, Agus menjelaskan, RSUP dr Kariadi mampu mendiagnosis sampel covid-19 hingga 400-450 per hari. Pihaknya juga menerapkan sistem shift kepada tenaga medis agar mereka tak kelelahan. “Kami juga pastikan ketersediaan APD untuk tenaga medis agar terjaga kesehatannya,” ujarnya.

Ketua Tim Task Force Penanganan Covid-19 wilayah Jawa Tengah, Jajang Edi Priyatno menjelaskan, kunjungan dirinya merupakan tindaklanjut atas instruksi Presiden Joko Widodo untuk segera melakukan upaya mitigasi dan percepatan penanganan covid-19 di sembilan provinsi dengan jumlah kasus tertinggi, termasuk didalamnya Jawa Tengah.

“Upaya penanganan covid-19, tidak bisa dilakukan oleh pusat semata. Untuk itu, perlu koordinasi lebih kuat dengan Pemerintah Daerah,” kata Jajang.

Pada kesempatan itu, Jajang menekankan pentingnya kepatuhan dan kedisiplinan seluruh pihak untuk menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker dengan baik dan benar, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta menjaga jarak aman.

“Menerapkan protokol kesehatan adalah bentuk perlindungan terbaik, sambil kita menunggu ditemukannya vaksin definitif covid-19,” tuturnya.

Jajang menambahkan, masalah terberat pada kepatuhan protokol kesehatan. Hal itu belum berjalan secara maksimal di daerah. Terlihat masih banyak orang yang belum patuh terhadap protokol kesehatan.

“Upaya itu perlu penguatan dari TNI/Polri. Sebelum tersedianya vaksin, kita harus melakukan force kepatuhan kepada masyarakat terkait protokol kesehatan,” ujarnya.

Tentang ketersediaan ruang isolasi, Jajang mengatakan, hal itu merupakan bagian dari pengendalian covid-19. Ia juga meminta kepada rumah sakit terkait ketersediaan tempat tidur sebagai langkah antisipasi atas lonjakan pasien dalam beberapa bulan kedepan. (Tri Wahyuni)