Aruna: Tiga Poin Strategi Keberlanjutan Ekosistem Perikanan di Indonesia

0

JAKARTA (Suara Karya): Ada tiga poin dalam strategi keberlanjutan ekosistem kelautan dan perikanan di Indonesia. Jika hal itu dilakukan secara benar, maka seluruh pemangku kepentingan, mulai dari nelayan, masyarakat pesisir, pelaku bisnis, pemerintah dan konsumen akan sejahtera.

Demikian intisari dalam acara Focus Discussion Group (FGD), talkshow dan webinar bertajuk ‘Indonesia Ocean Sustainability Forum 2022 by Aruna’ yang digelar startup bidang teknologi perikanan, Aruna di Jakarta, pada 17-18 Maret 2022.

Pembicara dalam kegiatan itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Pandjaitan, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Ari Purbayanto dan Chief of Sustainability Aruna, Utari Octavianty.

Acara tersebut juga diikuti agenda penandatanganan sejumlah kerja sama antara Aruna dengan berbagai instansi. Kerja sama ity bertujuan untuk keberlanjutan ekosistem kelautan dan perikanan di Indonesia.

Seperti dikemukakan Chief of Sustainability Aruna, Utari Octavianty. Pihaknta yakin keberlanjutan ekosistem laut bisa diimplementasikan melalui proses bisnis yang bertanggung jawab di 3 aspek, yaitu ekonomi, sosial.dan lingkungan.

“Hingga saat ini, melalui ‘local heroes’ di lapangan, kami rangkul semua nelayan untuk tumbuh bersama Aruna,” ujarnya.

Ditambahkan, Aruna juga mengedukasi nelayan tentang banyak hal, seperti penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan dan pentingnya menerapkan konsep keberlanjutan pada laut.

“Kami juga memfasilitasi mereka untuk akses permodalan, asuransi kesehatan serta lapangan pekerjaan untuk istri para nelayan,” ucapnya.

Upaya semacam itu menjadi penting, menurut Utari, karena menjaga kesejahteraan hidup nelayan merupakan langkah awal untuk mewujudkan keberlanjutan perikanan di Indonesia.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono dalam sambutannya memberi dukungan terkait harmoni ekologi dan ekonomi pada ekosistem kelautan atau dikenal ‘Blue Economy’. Hal itu akan membuka peluang investasi dan lapangan kerja, serta mendongkrak perekonomian nasional.

Hal senada dikemukakan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan. Pihaknya siap mengumpulkan komitmen global untuk melaksanakan restorasi kesehatan laut, serta menetapkan beberapa wilayah tertentu sebagai area penangkapan ikan.

Selain juga diterapkannya kuota penangkapan demi menjaga kelestarian spesies perikanan di suatu wilayah tertentu.

Di penghujung acara, Prof Ari Purbayanto menyampaikan 3 poin strategi keberlanjutan ekosistem kelautan dan perikanan di Indonesia.

Pertama, pentingnya merumuskan dan membumikan konsep ‘Blue Economy’ serta perlunya memiliki ‘blue print’ yang jelas tentang strategi perikanan Indonesia.

Kedua, perlunya pendampingan dan edukasi bagi nelayan Indonesia tentang perubahan iklim beserta dampaknya pada komoditas laut.

Ketiga, merumuskan kebijakan pemerintah yang sifatnya mutlak dan memihak kepada masyarakat. Dengan demikian, pelaku usaha dapat beroperasi lebih tenang. Hal itu juga meningkatkan kepercayaan investor untuk pendanaan pada sektor perikanan di Indonesia

Ia juga berharap Aruna dapat menjadi pionir yang menginspirasi terwujudnya keberlanjutan ekosistem kelautan, sekaligus membantu pemerintah dalam penerapan konsep ‘Blue Economy’.

Sekadar informasi, Aruna adalah perusahaan perikanan terintegrasi terbesar di Indonesia untuk menciptakan efektivitas pada rantai pasok hasil laut dengan menghubungkan nelayan skala kecil ke pasar global melalui teknologi.

Aruna telah memberdayakan lebih dari 26 ribu nelayan di 27 provinsi di Indonesia hingga akhir 2021. Setiap nelayan yang dibina Aruna dapat meraup omzet 7 kali lipat lebih besar setiap bulannya. (Tri Wahyuni)