ASANU: BTN Syariah Baiknya Fokus ke Properti, Tak Harus Merger ke BSI

0

JAKARTA (Suara Karya): Asosiasi Santri Pengusaha Perumahan Nusantara (ASANU) berharap rencana merger BTN Syariah ke Bank Syariah Indonesia (BSI) dibatalkan. Dengan demikian, BTN Syariah bisa menjadi bank yang fokus dalam pembiayaan proyek properti dan perumahan di Indonesia.

“BTN Syariah sebaiknya tak bergabung menjadi satu holding dengan BSI agar kinerjanya tetap fokus,” kata Ketua Umum ASANU, Wildan Sungkar di Jakarta, Minggu (29/5/22).

Apalagi, lanjut Wildan, angka kebutuhan perumahan (backlog) masih sangat tinggi yakni mencapai 12,75 juta unit. Itu belum termasuk pertumbuhan keluarga baru, yang mencapai 700 ribu hingga 800 ribu per tahun.

“Adanya bank syariah yang berfokus pada pembiayaan perumahan, maka hal itu akan mempercepat pemenuhan kebutuhan perumahan rakyat,” ucap Wildan menegaskan.

Ditambahkan, ASANU saat ini sedang menginisiasi Proyek Perumahan Kebangsaan di Jawa Tengah. Karena itu, butuh dukungan perbankan pemerintah yang fokus pada membiayai perumahan seperti BTN.

“Dengan spesialisasi BTN Syariah untuk KPR, kami harap BTN bisa menjadi ‘bapak asuh’ bagi setiap proyek perumahan yang dibangun oleh anggota ASANU,” kata Wildan.

Hal senada juga pernah disuarakan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Anwar Abbas. Pemerintah perlu memberi ruang atau tugas khusus bagi BTN Syariah untuk menggarap segmen yang belum tersentuh oleh emiten berkode saham BRIS itu. Ia percaya sinergi kedua entitas usaha itu dapat berjalan tanpa adanya akuisisi.

“Saya tidak setuju bila BTN Syariah akan diakuisisi oleh BSI. Sebaiknya BTN Syariah ditunjuk dan diberi tugas khusus oleh pemerintah untuk mengurusi usaha mikro dan ultra mikro, serta usaha kecil yang tidak dijamah oleh BSI,” ujar Anwar.

Seperti diberitakan sebelumnya, industri perbankan syariah dalam beberapa hari terakhir ini ramai akibat kontroversi merger BTN Syariah dan BSI. Kontroversi itu muncul usai pernyataan resmi dari juru bicara Wakil Presiden, Masduki Baidlowi. Ia membantah beberapa berita dengan angle dan narasi, seolah-olah Wapres minta rencana merger BTN Syariah dan BSI ditunda.

Masduki Baidlowi yang juga komisaris BSI lewat peryataannya sekaligus menjawab rencana merger Unit Usaha Syariah BTN oleh BSI menjadi terang benderang bakal dilakukan dalam waktu dekat.

Selain juga beredar surat dari Direktur Finance & Strategy BSI, Ade Cahyo Nugroho kepada Direktur Finance Bank BTN di jagad sosial media, Nofry Rony Poetra.

Surat dari BSI tertanggal 13 Mei 2022 itu berjudul ‘Penyampaian Minat dan Permohonan Tindak Lanjut Kerja Sama Pengembangan Unit Usaha Syariah PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk’.

Ade dalam surat tersebut menyatakan, ‘Menindaklanjuti pertemuan dan kesepakatan sebelumnya, bersama ini kami sampaikan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) berminat melakukan kerjasama dengan Bank BTN terkait dengan rencana pengembangan Unit Usaha Syariah Bank BTN’.

Ade menyampaikan permohonan kesediaan Bank BTN untuk bersama-sama melanjukan kerja sama ke tahap selanjutnya yakni proses ‘due diligence’.

Permohonan itu didasarkan kajian BSI yang menyebutkan kerja sama strategis itu dapat memberi manfaat yang positif bagi Bank BTN, BSI, nasabah, serta seluruh stakeholders. Pihak BTN sampai dengan saat ini belum terdengar menjawab pinangan itu. (Tri Wahyuni)