Asian Games Momentum Kebangkitan Handball

0
Lewat perpanjangan waktu 2x5 menit Qatar kalahkan Bahrain untuk meraih juara. (Suarakarya.co.id/Warso)

JAKARTA (Suara Karya): Handball-handball-handball, tampaknya cabang olahraga yang satu ini mulai di “Gandrungi”masyarakat Indonesia. Bahkan, cabang handball mampu mensejajarkan diri dengan cabang lain untuk dipertandingkan di Asian Games 18 di GOR POPKI Jakarta Timur mulai 23-31 Agustus 2018.

Perhelatan handball di Asian Games 18 dapat dijadikan momentum untuk kebangkitan olahraga bola tangan di Tanah Air. Semua itu terpantau dari tim putra dan putri yang tampil dalam pertandingan. Walau tim Handball Indonesia belum melangkahkan kaki ke partai semifinal, namun gebrakan pertama di multi event empat tahunan Asia patut diberikan “Acungan Jempol” dengan mengkandaskan tim Malaysia baik di putra dan putri yang sudah terlebih dulu menekuni dan menempa atletnya diberbagai event internasional.

Hal itu yang mendorong semangat Ketua Umum PB ABTI Dody Usodo Hargo untuk memperjuangkan olahraga handball dapat dipertandingkan di SEA Games yang akan digelar di Filipina tahun 2019 mendatang.

Meski Dody baru seumur jagung alias baru tiga bulan memimpin Pengurus Besar Asosiasi Bola Tangan Indonesia (PB ABTI) namun kecintaannya dan komitmen memajukan olahraga bola tangan tak perlu diragukan. Selama tim putra dan putri Indonesia tampil dalam pertandingan, Dody tetap meluangkan waktu mendampingi dan memberikan dukungan melalui tribun kehormatan atau VIP.

Tidak itu saja, upaya membangkitkan semangat pemain Handball menghadapi lawan-lawannya Dody selalu memberikan bonus Rp 150.000 bagi pemain yang mampu membobol gawang lawan. Sedang untuk penjaga gawang juga diberikan bonus Rp 500.000 saat menahan gempuran lawan.

Melalui dukungan semangat itulah para pemain nasional berusaha keras memberikan perlawanan pada lawan-lawannya tanpa mengenal lelah. Namun karena masih baru melakukan persiapan sekitar enam bulan menuju Asian Games 18, secara teknik, fisik dan pengalaman tanding masih tertinggal jauh atas lawan-lawannya seperti tim dari Jepang, Korsel dan tim dari kawasan timur tengah yang dipersiapkan ke Olimpiade di Tokyo tahun 2020 mendatang.

Dengan persiapan yang matang dan bertahun-tahun menekuni olahraga handball, tim Korsel putri tampil juara setelah mengalahkan China 29-23 di final, Kamis (30/8) Atas kekalahan itu China berada diposisi dua. Sedang tempat ketiga diambil Jepang seusai mengalahkan tim Thailand 43-14 dalam perebutan posisi tiga-empat.

Sementara di putra sang juara diambil tim Qatar melalui pertandingan menegangkan dan perpanjangan waktu 2 X 5 menit mengalahkan Bahrain dengan angka 32-27 di GOR POPKI, Jumat (31/8). Bahrain berada ditempat kedua. Posisi ketiga jatuh ke tangan Korsel dalam pertandingan akhir mengalahkan calon tuan rumah Olimpiade Jepang dengan skor tipis 24-23.

Menurut pengamat olahraga bola tangan nasional Arif Hidayat, Korsel layak tampil juara di putri setelah mengalahkan tim China. Walau dipantau dari segi postur tubuh pemain Korsel kalah atas pemain China, namun dalam strategi, tekhnik dan stamina permainannya lebih solid. Melalui ketiga faktor itulah Korsel putri berhasil mengalahkan tim China untuk tampil juara.

Begitu juga dalam perebutan juara di putra antara Bahrain lawan Qatar. Kedua tim menyuguhkan permainan terbaiknya dengan tekhnik dan strategi cukup jitu. Semua itu ditunjang dari segi stamina kedua tim memadai. Saling kejar mengejar angka kemenangan tak terelakkan, namun akhirnya tim yang lebih siap yaitu Qatar tampil juara setelah mengalahkan Bahrain dengan angka 32-27.

Sedang untuk perebutan tempat ketiga di putra kata Arif tampaknya Korsel lebih siap. Meski saling kejar mengejar angka, namun Korsel mampu mengalahkan Jepang dengan skor tipis 24-23. Korsel yang berada di posisi tiga mendapat dukungan penuh dari suporternya. Hal ini pula patut dicontoh penonton di Tanah Air agar selalu memberikan support pada pemainnya dalam suatu event internasional. (Warso)