Asosiasi Rektor Merah Putih Luncurkan Buku ‘Membumikan Ide dan Gagasan Soekarno Hatta’

0

JAKARTA (Suara Karya): Asosiasi Rektor Merah Putih meluncurkan buku “Membumikan Ide dan Gagasan Soekarno Hatta’ di kampus Universitas Terbuka (UT), di wilayah Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Rabu (21/12/22).

Buku setebal 224 halaman itu merupakan bunga rampai tulisan para rektor yang tergabung dalam Asosiasi Rektor Merah Putih, terkait ide dan gagasan besar dari dua tokoh pendiri bangsa, Soekarno-Hatta.

“Penerbitan buku ini sudah dapat masukan dari keluarga, yaitu Megawati Soekarno Putri dan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto,” kata Ketua ARMP yang juga Rektor UT, Prof Ojat Darojat dalam acara bedah buku tersebut, di kampus UT, Rabu (21/12/22).

Kegiatan bedah buku yang dipandu Rektor Universitas Tirtayasa, Prof Fatah Sulaiman menampilkan tiga narasumber yaitu Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Wakil Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Karjono, serta sejarawan yang juga Pemred Majalah Historia, Bonnie Triyana.

Prof Ojat berharap buku tersebut memberi kontribusi positif bagi kalangan muda Indonesia dalam menghadapi tantangan yang muncul di tengah derasnya aruh disrupsi, baik itu perubahan iklim, revolusi industri 4.0, maupun dampak pandemi covid-19.

“Buku itu diharapkan dapat memberi penguatan semangat dan komitmen nasonalisme dari generasi ke generasi dalam menjaga keutuhan NKRI,” tutur Prof Ojat.

Buku berisi pandangan dan khasanah keilmuwan dari tokoh pendiri bangsa, yang mencakup beberapa aspek. Diantaranya, kesejahteraan sosial, persatuan dan kesatuan, kehidupan berbangsa dan bernegara, pendidikan dan lainnya.

“Semoga buku ini bisa menjadi sumber referensi bagi pembaca untuk bekal melanjutkan tongkat estafet perjuangan,” kata Prof Ojat menandaskan.

Hasto menjelaskan, bedah buku ‘Membumikan Ide dan Gagasan Soekarno-Hatta’ sangat penting. Karena Bung Karno dan Bung Hatta meretas jalan kemerdekaan melalui kepemimpinan intelektual tentang ide, gagasan kemerdekaan Indonesia, lalu membumikannya dalam gerakan.

“Gerakan itu kemudian dikukuhkan dalam bentuk organisasi yang membangun kesadaran rakyat tentang kemerdekaan,” kata Hasto.

Menurut Hasto, banyak keteladanan Bung Karno dan Bung Hatta yang bisa dipelajari dari buku itu. Menjadi jalan kepemimpinan bagi mahasiswa yang saat ini sedang mengembleng dirinya untuk menjadi calon pemimpin.

“Ambil ide, daya imajinasi, semangat juang dan konsistensi dari pendiri bangsa tersebut, termasuk bagaimana menciptakan pemimpin negarawan yang berkarakter,” kata Hasto menegaskan.

Buku Membumikan Ide dan Gagasan Soekarno-Hatta ditulis Fatah Sulaiman dkk. Sedangkan editor buku, antara lain Ojat Darojat, Fatah Sulaiman, Nurhasan, Fathur Rokhman, Ganefri, dan Miftahil Ilmi.

Hasto menuliskan epilog buku itu, sementara Megawati menuliskan prolognya. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makariem menuliskan sambutan kata sambutan pada bagian awal buku.

Dalam prolog buku itu, Megawati menuliskan mengenai Pancasila hingga soal sejarah perjuangan Indonesia dalam melaksanakan tugas-tugas konstitusional bagi dunia.

“Sumbangan Indonesia terhadap peradaban dunia nampak dalam mendorong kemerdekaan negara Maroko, Tunisia, Aldjazair, Sudan, Pakistan dan lainnya. Kesemua itu sungguh membanggakan. Padahal kondisi keuangan Indonesia saat ini masih serba terbatas,” tulis Megawati.

Ditambahkan, kritik atas situasional saat ini, dengan kondisi yang tentunya lebih baik, seharusnya kepemimpinan Indonesia bagi dunia semakin besar. Namun mengapa yang terjadi justru sebaliknya.

Menurut Megawati, hal itu terjadi karena mentalitas bangsa pejuang nampak meredup; nasionalisme bangsa semakin meluntur; keyakinan untuk berani berdaulat dan berani berdiri di atas kaki sendiri juga tereduksi.

Karena itu, lanjut Megawati, mentalitas kepemimpinan harus dibangkitkan; mentalitas rendah diri dan tunduk pada dominasi negara asing harus diganti dengan mentalitas berani meletakkan nasib bangsa di tangan sendiri atau berdikari.

Megawati menyerukan kepada seluruh generasi muda Indonesia, agar segera keluar dari zona hidup yang datar-datar saja; atau zona hidup tanpa mimpi setinggi langit.

“Saya sedih, jika mahasiswa tidak memiliki semangat juang yang tinggi. Karena itu bangkitlah. Jadikan perguruan tinggi sebagai pusat kemajuan bangsa,” ucapnya.

Ditambahkan, perguruan tinggi harus terdepan di dalam riset dan inovasi untuk kemajuan negeri. Riset dan inovasi tersebut harus membumi, agar bisa diterapkan demi kemajuan rakyat Indonesia agar benar-benar bisa berdikari. (Tri Wahyuni)