Atasi Batu Ginjal Pakai Gelombang Suara Kejut, Ternyata Lebih Jitu!

0
Foto: Suarakarya.co.id/Tri Wahyuni.

JAKARTA (Suara Karya): Berkat teknologi kedokteran yang makin canggih, kasus batu ginjal kini bisa diatasi dengan gelombang suara kejut atau ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy) Hasilnya ternyata lebih jitu!

“ESWL ini tak menggunakan laser, tetapi gelombang suara kejut. Teknologi itu dapat menghancurkan batu ginjal hingga butiran kecil, lalu dikeluarkan lewat air seni,” kata dokter spesialis urologi Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Charles Martamba Hutasoit dalam diskusi media, di Jakarta, Jumat (22/2/2019).

Hadir dalam kesempatan itu tim dokter dari Urology Center Siloam Hospitals Kebon Jeruk yaitu Marto Sugiono, Wempy Supit, Johanus W Soelistyo, Anggie Novaldy dan Albertus Marcellino.

Charles menjelaskan, ESWL merupakan inovasi baru dalam mengatasi batu ginjal. Karena teknologi itu sama sekali tanpa pembedahan (non-invasif). Bahkan tanpa pembiusan. Prosesnya pun tak lama, dibutuhkan waktu sekitar 1 jam.

“ESWL bisa menjadi solusi efektif, karena menggunakan “triple focus” yang memiliki daya penghancur batu ginjal lebih optimal, minimal radiasi serta menimbulkan sedikit ketidaknyamanan,” ujarnya.

Ia memaparkan proses pengobatannya, yaitu pasien diminta berpuasa makanan dan minuman selama 4-6 jam. Sejak 2 hari sebelumnya, pasien diminta untuk mengonsumsi makanan yang mudah dicerna agar saat tindakan, tidak ada makanan yang tersisa di usus.

“Untuk pasien yang rutin mengonsumsi obat pengencer darah, diminta untuk tak lagi minum obat itu seminggu sebelum tindakan,” katanya.

Setelah itu, pasien hanya diminta berbaring dengan posisi tertentu agar batu ginjal dapat ditemukan dengan menggunakan alat USG (ultrasonografi) dan sinar X. Kemudian gelombang suara kejut akan difokuskan pada batu ginjal.

“Setelah selesai tindakan, pasien hanya diminta minum banyak cairan agar batu ginjal yang sudah jadi butiran kecil itu bisa keluar bersama air seni,” ucapnya.

Charles menegaskan, obat-obatan yang diklaim dapat menghancurkan batu ginjal tidak dapat digunakan, bila ukuran batu sudah mencapai lebih dari 5 milimeter. Untuk itu, harus segera diambil tindakan. Karena batu ginjal dapat membesar dan menyumbat aliran urin.

“Kondisi itu jika tidak diambil tindakan, dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal yang bersifat permanen. Pada akhirnya, pasien akan mengalami gagal ginjal sehingga butuh tindakan hemodialisa (cuci darah) secara rutin. Dan itu biayanya jadi sangat mahal,” katanya.

Dijelaskan, kasus batu ginjal dapat terjadi akibat gaya hidup dan pola makan seperti kurangnya asupan cairan. Bagi orang sehat, kebutuhan cairan sebanyak 2,5-3 liter air per hari. Selain itu, seseorang yang tinggal dan bekerja di daerah panas, asupan kalsium atau garam yang berlebihan, kurang gerak, obesitas, memiliki riwayat batu ginjal sebelumnya dan asam urat tinggi.

Gejalanya, antara lain, berupa rasa pegal di pinggang yang luar biasa, nyeri saat berkemih, anyang-anyangan (perasaan buar seni yang tak pernah tuntas), air seni berwarna keruh dan kemerahan.

“Banyak pasien berobat dengan gejala batu ginjal, karena merasa nyeri pinggang yang tak kunjung sembuh. Saat berobat itu, baru tahu kalau gula darahnya tinggi. Atau menderita hipertensi atau asam urat tinggi. Semua penyakit terbongkar, gara-gara pinggang sakit,” tuturnya.

Ditegaskan, ginjal menjadi penting karena organ tersebut berfungsi menyaring cairan dan membuang zat-zat sisa dalam darah dalam bentuk urin melalui saluran kemih. Zat sisa berlebih (seperti kalsium dan asam urat dalam urin akan menjadi endapan kristal yang menumpuk dan mengeras menjadi batu.

“Batu ginjal adalah penyakit saluran kemih yang sering terjadi. Prevalensinya mencapai 20 persen dari jumlah penduduk. Serta menimpa kalangan produktif usia 20-50 tahun,” kata Charles menandaskan. (Tri Wahyuni)