Atasi Ketimpangan Ekonomi, Pemerintah Gandeng Pondok Pesantren

0

BOGOR (Suara Karya): Pemerintah menggandeng pondok pesantren untuk mengembangkan ekonomi masyarakat. Kolaborasi dengan pihak organisasi, berbasis keagamaan dipandang sebagai faktor penting untuk mengatasi ketimpangan ekonomi yang semakin melebar.

“Untuk itu, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengembangkan program kemitraan ekonomi umat. Program ini merupakan implementasi dan tindak lanjut dari kebijakan pemerataan ekonomi dan kongres ekonomi umat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI),” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution dalam sambutan pada peresmian program santripreneur dan petani muda di di Pondok Pesantren Pemberdayaan Umat, Desa Cibuntu, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Rabu (26/12/2018).

Kolaborasi dengan pondok pesantren dan organisasi berbasis keagamaan merupakan salah satu faktor penting dalam upaya pengurangan ketimpangan. Pasalnya, lembaga berbasis keagamaan telah mengakar kuat di tengah masyarakat terutama di wilayah perdesaan. Data menyebutkan, ada sekitar 28 ribu pondok pesantren di seluruh Indonesia dengan jumlah santri lebih dari 4 juta orang.

Program kemitraan ekonomi umat ini disebutkan memfasilitasi berbagai inisiatif kemitraan antara umat, yaitu kelompok masyarakat berbasis pondok pesantren, masyarakat sekitar pondok pesantren, dan masyarakat khususnya UMKM dengan kelompok usaha besar. Kemenko Perekonomian telah mendorong dan memfasilitasi 16 kelompok usaha besar untuk bermitra dengan pondok pesantren dan kelompok masyarakat berbasis keagamaan.

Hingga saat ini, pemerintah juga telah berkolaborasi dengan beberapa ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama/NU, Muhammadiyah, Persatuan Islam/PERSIS, Persatuan Ummat Islam/PUI, dan Al-Ittihadiyah.
Sementara program santripreneur dan petani muda yang diresmikan hari ini juga merupakan bagian dari program kemitraan ekonomi umat.

“Program ini dirancang untuk mencetak wirausaha baru pertanian dalam rangka regenerasi petani serta mengembangkan potensi lahan non-produktif termasuk di pondok pesantren,” kata Darmin.

Dia mengatakan, sasaran program ini adalah santri tingkat akhir, alumni pondok pesantren dan masyarakat sekitar pondok pesantren, pemuda yang sedang atau baru lulus sekolah atau kuliah, serta tunakarya yang berminat pada usaha di bidang pertanian.

“Adapun cakupannya adalah kegiatan pelatihan serta pengembangan usaha pertanian pasca pelatihan. Ini difokuskan pada pengembangan komoditas pertanian bernilai ekonomi tinggi khususnya hortikultura yang diintegrasikan dengan usaha peternakan dan perikanan,” kata Darmin. (Indra DH)