Atasi Limbah Medis, UP Kembangkan Aplikasi Hazwaste

0

JAKARTA (Suara Karya): Universitas Pertamina mengembangkan aplikasi Hazwaste, yang dapat mengoptimalkan proses penanganan limbah medis infeksius kategori Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Limbah medis terus bertambah, seiring meningkatnya kasus covid-19 di Tanah Air.

“Aplikasi ini bisa digunakan untuk mengoptimalkan penjadwalan rute perjalanan kendaraan dan memantau kecepatan kendaraan, agar limbah B3 sampai ke fasilitas pengelolaan tepat waktu,” kata Ketua Tim Dosen Ilmu Komputer Universitas Pertamina (UP), Erwin Setiawan dalam siaran pers, Jumat (6/8/21).

Karena pengiriman tepat waktu, lanjut Erwin, maka pihak-pihak terkait dapat mengawasi proses pengelolaan limbah B3 medis agar sesuai ketentuan. Aplikasi digunakan terutama di daerah-daerah yang minim fasilitas pengelolaan limbah B3 medis.

“Uji coba purwarupa aplikasi ini telah kami lakukan di Kota Padang pada 2020 lalu. Penghasil limbah B3 medis di sana harus mengirim limbah ke pulau Jawa. Hasil uji coba menunjukkan adanya efisiensi pengiriman limbah,” ucapnya.

Erwin mengutip data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut, pada rentang Maret hingga September 2020, jumlah limbah B3 covid-19 di Indonesia mencapai 1.662,75 ton.

Hingga penghujung tahun 2020, baru 117 rumah sakit yang kantongi izin pengelolaan limbah B3 medis. Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) yang tak miliki izin pengelolaan limbah B3 medis harus mengirim limbahnya ke jasa pengelolaan terdekat.

Namun, limbah B3 medis hanya dapat disimpan maksimal 2×24 jam dengan suhu di bawah 0 derajat celcius. Jika limbah diangkut dengan armada yang tak dilengkapi pendingin, lama perjalanan tidak boleh lebih dari batas waktu yang ditentukan.

“Selain berpotensi pada pencemaran lingkungan, limbah infeksius juga dapat meningkatkan potensi penularan virus. Karena itu, perlu inovasi agar limbah infeksius sampai di tempat pengelolaan secara efektif dan efisien,” kata Erwin menegaskan.

Ditambahkab, aplikasi Hazwaste juga berpotensi meningkatkan daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di bidang pengangkutan limbah B3 medis. Fasyanskes biasanya memilih perusahaan besar untuk mengangkut limbah B3 medis, karena khawatir akan penyalahgunaan limbah, oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab.

“Adanya aplikasi Hazwaste, maka para pihak dapat memantau rute perjalanan dan pergerakan kendaraan pengangkut limbah B3 medis secara waktu nyata,” ucapnya.

Jika ada hal yang berpotensi pada pembuangan limbah di tempat yang tidak semestinya, pihak penghasil bisa langsung mengkonfirmasi ke pihak pengangkut. Misalkan, truk berhenti di titik yang tak seharusnya atau melewati rute yang tidak seharusnya.

Aplikasi ini, menurut Erwin, akan membantu UMKM pengangkut limbah memberi layanan yang cepat dan efisien. Di tahap awal pengembangan aplikasi, Tim bekerja sama dengan PT Bina Enviro Nusa untuk penggunaan aplikasi.

Seperti dikatakan, Direktur PT Bina Enviro Nusa, Donal Endriadi, program pemberdayaan masyarakat semacam ini sangat dibutuhkan UMKM untuk meningkatkan nilai jual dan membangun kepercayaan kepada mitra. (Tri Wahyuni)