Bacara, Permudah Komunikasi dengan Penyandang Bisu dan Tuli

0

JAKARTA (Suara Karya): Tim pengembang Institut Teknologi Harapan Bangsa (ITHB) Bandung tengah mengembangkan aplikasi Bacara (Bantu Bicara), yang akan mempermudah masyarakat untuk berkomunikasi dengan para penyandang bisu dan tuli.

Aplikasi tersebut merupakan satu dari 427 proposal yang mendapat pendanaan dari Program Matching Fund Kedaireka tahun 2021. Program digagas Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Ditjen Ristekdikti) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek).

Direktur Pengembangan Bisnis ITHB, Maclaurin Hutagalung disela acara sosialisasi Program Kompetisi Kampus Merdeka, di Bandung, Kamis (14/10/21) menjelaskan, aplikasi Bacara dilatarbelakangi kesulitan saat ingin berkomunikasi dengan penyandang bisu dan tuli. Karena tak semua orang mengerti bahasa isyarat.

“Aplikasi Bacara diperlukan karena prevalensi teman bisu dan tuli baik di Indonesia maupun dunia cukup besar,” ujar Maclaurin.

Dari berbagai informasi, diketahui pada 2019 ada sekitar 6 persen dari 7 miliar populasi dunia menyandang bisu dan tuli. Di Indonesia, diperkirakan jumlahnya mencapai 2 juta orang. Karena data Kementerian Kesehatan menunjukkan ada sekitar 5 ribu bayi terlahir bisu dan tuli setiap tahunnya.

“Meski jumlah penyandang bisu dan tuli cukup banyak di Indonesia, jumlah juru bahasa isyarat masih terbilang minim. Tercatat, ada sekitar 34 juru bahasa isyarat di seluruh Tanah Air,” tuturnya.

Pembuatan aplikasi Bacara, lanjut Maclaurin, mendapat pendanaan matching fund dari Kedaireka sebesar Rp46 juta dan dana pendamping dari mitra industri sebanyak 5000 dolar Amerika (Rp70 juta). Pengembangan aplikasi tersebut mendapat dukungan dari Google Indonesia.

Pengembangan aplikasi itu, lanjut Maclaurin, juga melibatkan 2 mahasiswa Universitas Indonesia, 1 mahasiswa Universitas Telkom dan 1 mahasiswa lainnya dari Universitas Esa Unggul.

“Kegiatan ini memiliki banyak manfaat. Selain membantu komunikasi dengan teman tuli, juga menerapkan konsep Kampus Merdeka dan kesempatan untuk dapat HaKI (Hak atas Kekayaan Intelektual) dan akreditasi kampus pun meningkat,” ujarnya.

Maclaurin menargetkan, aplikasi tersebut bisa selesai pada akhir Desember 2021. Saat ini, aplikasi sedang proses uji coba pada pengguna aktif, pengguna dari instansi pendidikan, komunitas bisu dan tuli, juru bahasa isyarat, instansi pemerintah dan masyarakat umum yang mencapai 60 pengguna.

“Cara kerja aplikasi ini seperti penerjemahan bahasa Indonesia ke bahasa asing. Kamera handphone diarahkan ke kawan tuli, nanti aplikasi akan menerjemahkan gerakan tersebut. Jika ingin membalas pembicaraan, tinggal bicara, lalu aplikas akan menampilkan bahasa isyaratnya,” tuturnya.

Dalam proses pembuatannya, Maclaurin menambahkan, pihaknya dapat banyak bantuan dari Google Developer Expert on Android, Sidiq Permana dan Senior Machine Learning Engineer at Google, Vincent Tatan.

Ditanya soal kendala, Maclaurin menyebut, banyaknya bahasa isyarat yang harus dimasukkan dalam data agar kamera dapat menangkap pesan gambar tersebut. Sehingga terhimpun pesan tulisan maupun gambar seperti yang kita bayangkan.

“Masih banyak sekali pekerjaan yang kita lakukan saat ini. Semoga target selesai Desember 2021 ini bisa tercapai,” kata Maclaurin menandaskan. (Tri Wahyuni)