Badan Bahasa Gelar Malam Sastra, Jadi Ajang Nostalgia Pelaku Budaya!

0

JAKARTA (Suara Karya): Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) menggelar ‘Malam Sastra di Badan Bahasa’, yang dihadiri kampium sastra di Indonesia yang karyanya tak lekang ‘dimakan’ zaman.

Sastrawan, penggerak literasi, dan pelaku budaya yang jadi penampil, antara lain pembacaan cerpen/monolog berjudul ‘Merdeka’ oleh Putu Wijaya, pidato kebudayaan oleh Salim Said; pembacaan puisi oleh Niniek L Karim dan Imam Soleh; Band Kosakata; musikalisasi puisi dari SMA Labschool Kebayoran dan Rizki Anugrah Putra; dan lainnya.

Guna menambah suasana keakraban, kudapan malam ikut ‘merakyat’ seperti makanan serba rebusan, diantaranya jagung, kacang dan ubi. Selain jajanan pasar dari pedagang kaki lima yang biasa ‘mangkal’ di sekitar Kantor Badan Bahasa.

Mendikbudristek, Nadiem Anwar Makarim saat membuka acara secara daring, Minggu (3/7/22) mengatakan, peringatan Hari Sastra Nasional tahun ini menjadi momentum untuk mengenang kembali jasa para sastrawan besar Indonesia.

“Tahun ini ada tiga perayaan penyair besar kita, yaitu 100 tahun Chairil Anwar, Mochtar Lubis dan 105 tahun kritikus sastra, HB Jassin. Selain perayaan 56 tahun majalah sastra Horison,” ujarnya

Nadiem mengajak masyarakat untuk membaca, menelaah dan memaknai ulang karya para sastrawan Indonesia tersebut. Lewat karya mereka, akan ditemukan pemikiran-pemikiran penting untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik.

“Sastra tak hanya tentang susunan kata dan kalimat berbunga-bunga. Bukan juga fiksi yang membawa kita larut dalam imajinasi belaka. Sejarah mencatat peran sastrawan dalam membangkitkan semangat kemerdekaan dari penjajahan melalui karya-karya hebatnya,” kata Nadiem.

Untuk itu, Kemdikbudristek melalui Badan Bahasa akan melanjutkan program-program unggulan di bidang bahasa dan sastra seperti residensi penulis serta berbagai kegiatan sayembara dan penghargaan. Tidak hanya sastra Indonesia, tetapi juga sastra daerah lewat program prioritas revitalisasi bahasa daerah.

“Revitalisasi bahasa daerah masuk dalam Program Merdeka Belajar episode ke-17.
Program tersebut melibatkan komunitas bahasa dan sastra, yang didukung Dana Abadi Kebudayaan. Dana tersebut dapat diakses semua kelompok dan pelaku budaya di seluruh Indonesia,” ucapnya.

Kemdikbudristek juga mendorong penulis dan sastrawan muda untuk terlibat aktif dalam pengembangan sastra daerah dan sastra Indonesia dengan cara yang kreatif dan inovatif.

Kepala Badan Bahasa, Endang Aminudin Aziz juga mengajak para pegiat bahasa dan sastra untuk terus bahu membahu dalam melambungkan dan menjayakan karya-karya kreatif mereka. Misalkan, kegiatan residensi penulis yang sempat terhenti di masa pandemi, penghargaan bagi pegiat bahasa dan sastra, dan penerjemahan karya sastra.

Taufiq Ismail pada kesempatan yang sama menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan Malam Sastra ini. “Mari kita berkarya dalam sastra bangsa sebagai amal saleh,” katanya. (Tri Wahyuni)