Badan Bahasa Tetapkan Metamesta jadi Kata Tahun Ini

0

JAKARTA (Suara Karya): Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) menetapkan metamesta sebagai Kata Tahun Ini (KTI). Metamesta merupakan padanan dari metaverse.

Kata tersebut tercatat di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring pada April 2022 atas usulan dari masyarakat, yaitu Erlangga Saputra.

Seperti dikemukakan Kepala Badan Bahasa, E. Aminudin Aziz, penetapan KTI didasarkan pada beberapa pertimbangan. Diantaranya, daftar kata terpopuler menurut KBBI, frekuensi kemunculan di Google Trends, penanda berbagai peristiwa, kata itu digunakan berbagai kalangan, dan keluasan distribusi atas kata tersebut.

“Penetapan KTI, kami lakukan sejak 2019 lalu. KTI yang telah ditetapkan sebelumnya adalah milenial (2019), pandemi (2020), dan vaksin (2021),” kata pria yang akran dipanggil Amin tersebut.

Analis Kata dan Istilah, Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Adi Budiwiyanto menjelaskan, metamesta menurut KBBI adalah ruang realitas virtual dalam lingkungan tiga dimensi yang dihasilkan melalui program komputer.

“Kata itu berasal dari bentuk terikat meta yang berarti perubahan; transformasi atau melampaui, di atas, atau berada di tingkat yang lebih tinggi dan semesta yang berarti seluruh; segenap; semuanya dan (berlaku untuk) seluruh dunia; universal,” ujar Adi.

Konsep metaverse berasal dari kencangnya laju transformasi digital yang meningkatkan ekspektasi masyarakat terhadap kegunaan ruang virtual. Konsep itu menarik perhatian berbagai aspek masyarakat, termasuk pemerintah.

Hal itu terlihat saat Pemerintah Indonesia meluncurkan Jagat Nusantara pada 28 Oktober 2022 di Jakarta. Jagat Nusantara merupakan platform digital media sosial, perdagangan daring, media olahraga, serta hiburan masa depan.

Hal serupa dilakukan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) yang memperkenalkan platform WonderVerse Indonesia sebagai platform promosi pariwisata dan produk ekonomi kreatif Indonesia secara interaktif dan digital.

Konsep metaverse juga didukung Makassar Metaverse yang merupakan kelanjutan dari Sombere and Smart City. Teknologi metaverse juga ditemui pada pameran Digital Economic Working Group (DEWG) dan B-20 yang merupakan kegiatan pendukung G-20.

Metamesta ramai dibicarakan karena teknologi itu mendukung pembelajaran jarak jauh serta pengalaman perdagangan dan promosi perbankan gaya baru. Topik tersebut dibincangkan sejak beberapa tahun dan kian populer pada 2022.

Berbagai aspek sosial berlomba-lomba untuk menerapkan konsep teknologi metamesta dalam kesehariannya. Metaverse menjadi tren di kalangan pemirsa Asia Tenggara dengan lebih dari 5,9 juta percakapan, yang direkam dari saluran media sosial sepanjang tahun 2021.

Indonesia mencatatkan jumlah sebutan (mention) dan pelibatan (engagement) tertinggi di negara-negara yang dimonitor dengan jumlah mencapai 60 persen dari seluruh percakapan, dan sepertiga dari pelibatan terkait topik ini.

Fenomena ini, menurut Laporan Social Media Trends 2022 bertajuk ‘From Insights to Action: How to Disrupt a Disruptive Consumer’ seperti dikutip Liputan6.com telah memprediksi metaverse sebagai salah satu tren media sosial 2022.

“Karena itu, Badan Bahasa perlu memperkenalkan istilah padanan dari metaverse, yaitu metamesta kepada masyarakat,” ujarnya.

Ditanya apakah ada kata lain yang dipertimbangan sebagai KTI selain Metamesta, Adi mengatakan, Badan Bahasa memiliki 3 kata yang dinilai layak menjadi KTI 2022 yaitu metamesta, presidensi dan lokal pasar (market place).

“Setelah mempertimbangkan banyak hal, maka ditetapkan metamesta sebagai KTI 2022,” ucap Adi menandaskan. (Tri Wahyuni)