Badan Litbangkes Tahun Ini Berhasil Cetak 4 Profesor Riset

0

JAKARTA (Suara Karya): Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan (Litbangkes) tahun ini berhasil mencetak 4 profesor riset. Pengukuhan yang digelar di Jakarta, Kamis (13/6/2019) itu disaksikan Menteri Kesehatan, Nila FA Moeloek.

Empat profesor riset yang dikukuhkan adalah Dr dr Laurentia Konadi Mihardja, MS, Sp GK dan Dr dr Julianty Pradono dalam bidang epidemiologi dan biostatistik, Dr Astuti Lamid, MCN dalam bidang makanan dan gizi) serta Dr Dede Anwar Musadad, SKM, MKes dalam bidang kesehatan lingkungan.

Topik orasi Laurentia Konadi terkait pencegahan Diabetes Melitus (DM) atau kencing manis melalui pengendalian faktor risiko sejak dini. Disebutkan, DM tipe 2 yang biasa terjadi pada orang dewasa, kini mulai banyak ditemukan pada anak-anak.

“DM dengan komplikasi meningkatkan kesakitan dan kematian, serta biaya pengobatan tinggi yang memberatkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan,” katanya.

Prevalensi faktor risiko DM, disebutkan, terlihat pada kasus stunting, kegemukan, prediabetes dan gaya hidup tidak sehat pada anak dan remaja. Orangtua harus “tega” melarang anaknya mengkonsumsi makanan dan minuman manis pada anaknya. “Jika tidak dikendalikan, kebiasaan makan dan minum manis akan berlanjut hingga dewasa,” katanya.

Sementara itu, Julianty Pradono dalam orasinya membahas pengendalian hipertensi melalui pencegahan kegemukan. Hipertensi merupakan faktor risiko penyakit tidak menular yang membutuhkan biaya pengobatan besar.
Pencegahan kegemukan dimulai sejak masa anak-anak lewar perilaku hidup sehat dengan pendekatan budaya.

Profesor riset Astuti Lamid membahas temuannya tentang Pengembangan Formula Ready To Use Theurapetic Food (RUTF) untuk penanganan balita wasting di Puskesmas. RUTF memanfaatkan bahan lokal seperti kacang hijau, kacang tanah dan tempe. Kandungan gizinya sesuai anjuran Unicef dan terbukti efektif meningkatkan status gizi balita sangat kurus.

“Saya berharap temuan ini dapat diadopsi oleh program intervensi gizi balita wasting, yang terintegrasi dalam Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga,” ujarnya.

Profesor riset ke-4 yaitu Dede Anwar Musadad menyampaikan orasi dengan topik rekayasa sosial dan teknologi tepat guna untuk penyelesaian masalah sanitasi. Ia mengungkapkan peningkatan kesadaran dan perilaku masyarakat menjadi kunci keberhasilan program kesehatan lingkungan.

“Untuk itu, masyarakat perlu dikenalkan dengan alternatif teknologi tepat guna seperti penjernihan air sederhana, pembuatan ventilasi, jamban pasang surut agar kesehatan lingkungan tetap terjaga,” ujar Dede Anwar.

Selain kebutuhan sanitasi dasar yang belum terpenuhi, Dede Anwar menyebut dunia termasuk Indonedia dihadapkan pada masalah pemanasan global, sampah plastik dan styrofoam dan penggunaan bahan kimia yang tidak terkendali. Transformasi program kesehatan lingkungan membutuhkan upaya akselerasi agar dapat mengejar kecepatan atas masalah baru yang timbul.

Tantangan lainnya adalah disparitas status kesehatan dan status gizi antar wilayah, antar tingkat sosial ekonomi dan gender, penyediaan anggaran publik untuk kesehatan serta peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada tingkat rumah tangga. (Tri Wahyuni)