Badan POM Luncurkan 4 Buku Terkait Tata Laksana Pengobatan Covid-19

0

JAKARTA (Suara Karya): Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM), meluncurkan buku berjudul Informatorium Covid-19 yang berisi perkembangan dan tata laksana pengobatan corona virus disease (covid-19) di Indonesia.

Peluncuran dilakukan Kepala Badan POM, Penny K Lukito melalui telekonferensi yang diikuti sekitar 170 orang dari berbagai profesi seperti Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 BNPB, perwakilan rumah sakit, wakil dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, sejumlah organisasi profesi dokter, perguruan tinggi dan tim ahli dalam informatorium obat Covid-19.

Selain Informatorium Covid-19, ada tiga buku lagi yang diluncurkan pada Kamis (9/4/20). Ketiga buku itu berjudul Langkah Strategis Badan POM dalam Penanganan Obat Covid-19, Pedoman Pelayanan Publik Bidang Obat dalam Kondisi Pandemi Covid-19 dan Pedoman Pengawasan Pemasukan Obat Covid-19 melalui Jalur Khusus.

“Kami merespon setiap perkembangan obat dan pengobatan terkait Covid-19 secara global. Informasi itu kami komunikasikan dengan para ahli guna menjaga aspek keamanan dan kelancaran dalam proses percepatan penanganan pandemi ini,” katanya.

Penny mengatakan, buku tersebut telah diserahkan secara simbolik ke Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 BNPB pada Jumat (10/4/20) untuk diteruskan kepada para para dokter yang membutuhkan.

Ditambahkan, pembuatan buku dan informatorium covid-19 dilakukan Badan POM guna memberi acuan bagi tenaga kesehatan saat menangani pasien positif covid-19. Dalam tugasnya tersebut, Badan POM dibantu tim ahli dari berbagai latar belakang bidang kesehatan seperti klinisi, farmakolog, akademisi dan lainnya.

Pelaksanaan FGD ini diharapkan akan terjadi sinergi antara kementerian dan lembaga lain yang terkoordinasi dengan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 untuk mendukung akselerasi penanganan dan penanggulangan covid-19 di Indonesia.

“Semoga keinginan kita, bangsa Indonesia segera terbebas dari covid-19 dapat segera tercapai. Sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan bebas seperti sedia kala,” kata Penny menandaskan.

Dalam sesi diskusi, spesialis farmakologi Rianto Setiabudy mengatakan, pandemi covid-19 telah menimbulkan kepanikan di kalangan paramedis. Hal itu membuat dokter dalam penggunaan obat-obatan menjadi kurang terarah.

“Untuk menghindari kondisi itu, kami hanya bisa berpesan kepada para dokter untuk memilih satu regimen pengobatan yang mendasar pada literatur agar efektif, aman, tersedia, sesuai kebutuhan pasien dan harganya terjangkau,” ujarnya.

Rianto juga meminta dokter untuk menghindari pemberian kombinasi obat antiviral sekaligus. Perhatikan regimen dosis, cara pemberian, lama pengobatan, interaksi obat, efek samping dan kewaspadaannya. Semua itu secara jelas tercantum dalam buku Informatorium Obat Covid-19.

Hal senada dikemukakan Ahli Kebijakan Publik Bidang Obat Lucky S Slamet. Katanya, obat uji yang dipergunakan harus sesuai pedoman badan kesehatan dunia WHO. Dokter juga harus perhatikan aspek etik terkait dan prioritaskan penggunakaan terapetik terkini.

Ditambahkan, pelaksanaannya harus mengacu pada WHO Core Clinical RCT (Randomized Controlled Trial) yang sejalan dengan standar pelayanan rawat inap pasien. Bila RCT tidak mungkin, perlu mekanisme sesuai WHO MEURI (Monitored Emergency Use of Unregistered and Investigational Interventions) hingga RCT bisa dilakukan.

“Terbitnya buku Informatorium Obat Covid-19 diharapkan memberi manfaat, sehingga makin banyak pasien tertolong dalam kondisi darurat seperti sekarang ini,” kata Lucky yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Kepala Badan POM itu.

Sementara itu Dokter Spesialis Paru di Rumah Sakit Persahabatan Jakarta, Faisal Yunus mengungkapkan, pemberian pengobatan di rumah sakitnya mengacu pada upaya para dokter senior dari berbagai belahan dunia saat menangani pasien covid-19. (Tri Wahyuni)