Bahayanya Merokok, Lebih dari 3 Juta Orang Meninggal Karena PPOK

0

JAKARTA (Suara Karya): Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono mengingatkan kembali masyarakat akan bahaya merokok bagi kesehatan. Hal itu merujuk pada data Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebut ada lebih dari 3 juta kematian pada 2019 akibat merokok.

“Bahaya merokok penting disosialisasi ke masyarakat. Karena merokok dapat menyebabkan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) yang berujung pada kematian,” kata Dante dalam keterangan pers secara virtual, Selasa (23/11/21).

Ditambahkan, PPOK juga menjadi penyebab kematian ketiga terbanyak di dunia. Global initiative for Chronic Obstructive Lung Disease memperkirakan secara epidemiologi, pada 2060 angka prevalensi PPOK akan terus meningkat seiring denga meningkatnya jumlah perokok di dunia.

Sedangkan di Indonesia, menurut Dante, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan prevalensi PPOK yang mencapai 3,7 persen atau sekitar 9,2 juta orang. Orang tidak waspada terhadap PPOK karena bukan termasuk penyakit menular. Tata laksana pengobatan PPOK diupayakan pada pencegahan perburukan gejala dan fungsi paru.

“Meski begitu, hal yang perlu diperhatikan adalah implikasinya terhadap kesehatan, implikasinya terhadap investasi manusia. Semua jadi terhambat akibat paparan rokok pada anak-anak usia 10-18 tahun. Ini jadi ‘PR’ kita bersama,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Konsultan Kardiovaskular RS Advent Bandung, Arto Yuwono Soeroto menjelaskan, PPOK terjadi karena adanya korelasi erat antara paparan partikel atau gas berbahaya dari asap rokok pada saluran napas dan jaringan paru.

“Ada juga partikel lain seperti polusi bahan kimia di tempat kerja dan asap dapur yang dapat menimbulkan PPOK,” ujarnya.

Gejala PPOK disebutkan, keluhan saluran pernapasan yang menetap seperti batuk berdahak, sesak nafas dan keluhan lainnya yang menetap. Hal itu terjadi lantaran adanya gelembung alveolus atau kantung udara kecil dalam paru-paru yang menjadi tempat pertukaran oksigen dan karbondioksida.

Riset Kesehatan Kementerian Kesehatan memperlihatkan prevalensi perokok di Indonesia masih sangat tinggi, sekitar 33,8 persen. Dengan demikian, 1 dari 3 orang di Indonesia merokok. Kondisi itu memberi kontribusi pada kejadian PPOK yang besar di Indonesia.

Perokok pria memikili proporsi yang besar sekitar 63 persen, atau 2 dari 3 pria di Indonesia saat ini merokok. Selain itu peningkatan prevalensi merokok cenderung lebih tinggi pada kelompok remaja usia 10-18 tahun, yaitu sekitar 7,2 persen naik menjadi 9,1 persen pada 2018. Dengan demikian, hampir 1 dari 10 anak di Indonesia merokok.

Sekadar informasi, Hari PPOK diperingati setiap 17 November. Hal itu untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap PPOK. Tahun ini, Hari PPOK mengangkat tema ‘Health Lungs: Ever More Important’ dengan subtema ‘Tiada Yang Lebih Penting Daripada Sehat Untuk Indonesia Hebat’.

Hari PPOK merupakan momentum untuk saling mengingatkan untuk menjaga kesehatan paru-paru. Hal itu menjadi penting untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia hingga usia tua.

Di masa pandemi covid-19, virus Sars-CoV-2 akan menyerang sistem pernapasan. Hal itu membuat para penderita PPOK lebih rentan mengalami penyakit paru-paru kronis. (Tri Wahyuni)