Bantu Atasi Learning Loss, Zenius Kembangkan Zencore

0

JAKARTA (Suara Karya): Dampak learning loss pada dunia pendidikan Indonesia setelah dua tahun pandemi covid-19, ternyata bukan isapan jempol. Hal itu dirasakan Founder sekaligus Chief Education Officer Zenius, Sabda PS.

Ia melakukan tes ringan kepada sejumlah siswa kelas 12 di tempat bimbingan belajar Primagama yang telah diakuisisi Zenius. Sabda mengaku kaget karena ada 39 persen yang tidak bisa menjawab soal pembagian yang tidak terlalu sulit.

“Ada 39 persen siswa yang tidak tahu menghitung hasil dari 1/3 dibagi 3. Level soalnya masih dasar, tapi siswa kelas 12 tidak bisa menjawab,” kata alumnus ITB tersebut.

Merujuk dari pengalaman itu, lanjut Sabda, Zenius mengembangkan aplikasi Zencore yang bisa digunakan siswa untuk berlatih agar dampak learning loss di kalangan siswa tidak semakin parah.

“Zencore ini bisa diakses secara gratis. Ada ratusan ribu soal yang bisa digunakan siswa untuk berlatih,” tuturnya.

Sabda menjelaskan, Zencore dikembangkan dengan mengacu pada materi tes PISA yaitu matematika, kemampuan verbal, dan bahasa Inggris. Soal dibuat dengan menekankan pada penalaran realitas.

“Soal yang ada di Zencore bisa digunakan siswa yang akan ikut seleksi masuk perguruan tinggi negeri (PTN) tahun depan yang aturannya sudah diubah. Zencore juga punya banyak soal yang butuh penalaran untuk menjawabnya,” ucap Sabda.

Seperti diberitakan, Kemdikbudristek menghapuskan tes potensi akademik (TPA) pada SBMPTN, dan hanya menyisakan tes potensi skolastik (TPS) saja.

Untuk itu, siswa dituntut untuk fokus pada kemampuan penalaran dan pemecahan masalah (tes skolastik), yang terdiri dari potensi kognitif, penalaran matematika, literasi Bahasa Indonesia dan literasi Bahasa Inggris.

“Perubahan aturan dalam seleksi masuk PTN, tidak usah dikhawatirkan. Karena siswa kini
belajar mata pelajaran secara menyeluruh. Siswa diasah kemampuan bernalarnya. Siswa bisa berlatih mengerjakan materi soal yang sesuai di Zencore,” ucap Sabda menegaskan.

Disinggung soal masa depan bimbelnya, Sabda mengaku tak khawatir. Selagi masih ada sistem kompetisi dalam dunia pendidikan, maka bimbingan belajar tetap dibutuhkan.

“Di Singapura itu, kualitas sekolahnya sudah bagus-bagus, tetapi bimbingan belajar tetap dicari. Begitupun di Korea atau Jepang. Sepulang sekolah, anak lanjut belajar di bimbel sampai malam. Dunia pendidikan itu sangat kompetitif,” ucapnya. (Tri Wahyuni)