Banyak Kampus di Indonesia Tumbuh bak Terkena ‘Stunting’

0

JAKARTA (Suara Karya): Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) menyebut Indonesia terlalu banyak memiliki kampus yang tidak berkualitas. Jika dianalogkan dengan manusia, ia terkena ‘stunting’ sehingga tubuhnya menjadi kuntet.

“Ada sekitar 4.500 perguruan tinggi di Indonesia dengan kualitas pendidikan yang bervariasi. Hanya 40 persen dengan kualitas baik, sisanya perlu pembenahan,” kata Prof Mohammad Nuh dalam webinar yang digelar yang diikuti sekitar 9 ribu rektor dan dosen se-Indonesia, pada Kamis (8/6/22).

Prof Nuh menyebut ada 3 jenis kampus. Pertama, kampus yang baru didirikan, tetapi langsung tutup karena tidak mampu menggaet mahasiswa. Kedua, kampus yang masih operasional, karena mahasiswanya sedikit tetapi tumbuh bak terkena ‘stunting’.

Ketiga, kampus Indonesia dengan kualitas pendidikan yang sangat baik dan baik. Kampus tersebut berkembang secara maksimal dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Mari para pemimpin perguruan tinggi untuk mulai meningkatkan kualitas diri, agar kampusnya menjadi pilihan. Karena sebenarnya, keberadaan kalian dibutuhkan. Mengingat, angka partisipasi kasar (APK) perguruan tinggi masih di angka 31 persen.

Mantan Mendikbud itu menyampaikan sejumlah tips agar kampus tidak kekurangan mahasiswa. Pertama, pentingnya membangun image atau citra yang bagus dari kampus supaya bisa tumbuh dan berkembang.

Karena, lanjut Prof Nuh, sebenarnya banyak kampus yang memiliki kualitas bagus, tapi belum diketahui masyarakat luas. Sebaliknya, ada pula kampus yang kualitasnya kurang, tapi begitu populer di masyarakat karena banyak melakukan pencitraan.

“Pencitraan itu baik. Namun pencitraan yang bagus harus disertai dengan substansi yang bagus pula. Hal ini berlaku pula bagi kampus. Jadi, upaya pencitraan agar dikenal masyarakat dan kemauan untuk meningkatkan kualitas harus seimbang,” katanya.

Kedua, pentingnya menonjolkan keunikan kampus. Untuk memiliki kampus dengan jumlah mahasiswa yang banyak, tak harus menjadi yang terbaik. Upaya itu bisa diraih dengan memiliki spesialisasi di bidang tertentu.

Ia mencontohkan kepemimpinannya di Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya, yang memiliki kampus swasta bernama Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA). Pada awal Juni ini, kapasitas UNUSA sudah terisi 40 persen. Padahal, kampus-kampus negeri favorit di Surabaya, jumlahnya tak sedikit

“Agar mampu berkompetisi, kampus maupun mahasiswa tak harus menjadi yang terbaik di semua bidang. Kampus Anda harus memiliki spesialisasi di bidang tertentu. Kampus juga tak perlu membeda-bedakan status negeri dan swasta. Karena semua ada pasarnya masing-masing,” ucapnya.

Ketiga, kampus tak boleh fokus pada upaya mencari mahasiswa sebanyak-banyaknya. Memiliki mahasiswa yang banyak memang menjadi harapan banyak pimpinan kampus. Banyaknya mahasiswa bisa jadi indikator kebesaran dan popularitas kampus.

Namun, Prof Nuh berpesan agar kampus tidak berfokus pada mengejar kuantitas, yaitu jumlah mahasiswa. Karena, hal itu hanya salah satu indikator kualitas saja yaitu bersifat input base (masukan).

“Kampus bisa besar dan populer, jika kualitas lulusannya bagus dan berperan luas di masyarakat. Alumni adalah juru kampanye terbaik. Semakin sukses alumni suatu kampus, maka semakin mudah kampus dikenal masyarakat dan mendapat calon mahasiswa berkualitas,” tuturnya.

Guna mendapat hasil yang maksimal, menurut Prof Nuh, kampus bisa menggunakan outcome base (orientasi luaran). “Anda boleh mencari mahasiswa sebanyak-banyaknya, namun perlu diingat, meningkatkan kualitas juga diperlukan. Promosi oleh alumni jauh lebih efektif dibanding memakai baliho,” ujarnya.

Hal senada dikemukakan Ketua Forum Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan (Fortadikbud) yang juga wartawan Media Indonesia, Syarief Oebaidillah. Ia membagikan tips agar pemberitaan seputar kampus menjadi viral dan masuk berita nasional. Hal itu akan mendukung penerimaan mahasiswa baru.

“Caranya, jalin kerja sama dengan wartawan agar dapat menyebarkan informasi seperti beasiswa kuliah gratis, prestasi kampus, kolaborasi dengan Dunia Industri (DUDI) dan penemuan baru kampus yang bisa menjadi ‘branding’ bagi kampus.

Product Manager SEVIMA, Pranatha juga mengajak perguruan tinggi untuk memberi pelayanan terbaik kepada mahasiswa dan masyarakat. Hal itu akan membuat image positif bagi perguruan tinggi. Layanan itu menyederhanakan administrasi pendaftaran mahasiswa lewat ‘One Day Service’ (ODS) atau layanan satu hari.

Sistem akademik berbasis awan (Siakadcloud) yang tersedia di internet memungkinkan kampus untuk menggelar seluruh administrasi pendaftaran mahasiswa hanya dalam satu hari. Misalkan, pengisian formulir pendaftaran secara online, ujian masuk berbasis komputer, seleksi wawancara melalui video conference, hingga pengumuman secara online.

“Intinya, masyarakat dibuat semudah mungkin untuk mendapat layanan dari kampus. Baik itu sistem akademik dan pendaftaran mahasiswa baru yang cepat, mudah, dan efisien. Sehingga kampus dan mahasiswa tidak berkutat terlalu lama di proses administrasi,” kata Pranatha. (Tri Wahyuni)