Bappenas: Pentingnya Penguatan Kerja Sama Lintas Sektor Perbaiki Gizi

0

JAKARTA (Suara Karya): Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Subandi Sardjoko menegaskan, pentingnya strategi penguatan kerjasama lintas sektor dalam perbaikan gizi.

Penegasan tersebut disampaikan dalam konferensi pers, di Jakarta, Selasa (23/11/21) terkait Gerakan Scaling Up Nutriton (SUN) di Indonesia: Satu Dekade Melangkah Bersama (2011-2021). SUN merupakan gerakan global di bawah Sekjen PBB untuk mengatasi masalah malnutrisi di dunia melalui keterlibatan lintas sektor.

Indonesia sendiri telah bergabung dalam Gerakan SUN sejak 2011. Tahun ini, tepat sepuluh tahun sejak Indonesia bergabung dengan 64 negara lainnya dalam gerakan global Scaling Up Nutrition.

“Dalam sepuluh tahun terakhir, banyak hasil yang telah dicapai Gerakan SUN, terutama dalam percepatan penurunan stunting,” kata Subandi yang juga bertugas sebagai SUN Focal Point Indonesia.

Subandi menjelaskan, capaian utama gerakan SUN, antara lain urusan gizi menjadi prioritas utama dalam pembangunan nasional. Hal itu termaktub dalam RPJMN 2020-2024, yang meliputi gizi lebih dan gizi kurang.

Selain itu, isu penurunan stunting yang dilaksanakan secara sistematis melalui Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting, yang diperkuat lewat Perpres No 72 Tahun 2021.

Hadir dalam acara, sejumlah perwakilan SUN Networks yang terdiri dari pemerintah, mitra pembangunan, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, dan akademisi.

Lead of SUN Development Partners, Jee Hyub Rah menegaskan dukungan mitra pembangunan guna memperkuat pendekatan multisektoral untuk perbaikan gizi. “Kami beri rekomendasi kebijakan berbasis bukti, membangun kapasitas pemangku kepentingan, serta memperkuat kualitas data untuk memantau kemajuan,” kata Jee.

Sementara itu, Lead of SUN Government Networks, Agus Suprapto menyampaikan pentingnya perubahan orientasi sasaran dalam penurunan stunting. Kementerian/Lembaga perlu mengubah orientasi sasaran ke kelompok remaja, tak lagi pada bayi dan balita.

“Target penurunan stunting pada 2024 bisa dicapai, jika para remaja dan pasangan usia subur yang akan hamil dan melahirkan, dipastikan mengerti soal gizi dan mendapat asupan gizi yang bagus saat tumbuh kembangnya,” ucap Agus Suprapto.

Hal itu senada dengan prioritas intervensi kelompok SUN Business Networks yang menyasar pada edukasi kelompok 1.000 Hari Pertama Kehidupan dan remaja.
Asih Setiarini, ketua jejaring perguruan tinggi dan organisasi profesi menyampaikan potensi keterlibatan mahasiswa dalam melakukan pendampingan kepada kelompok sasaran perbaikan gizi.

“Lewat Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), dimana kegiatan pengabdian masyarakat dapat dikonversi ke dalam SKS, maka lebih banyak mahasiswa berkontribusi dalam program menurunkan kasus stunting,” ujar Asih.

Sri Kusyuniati, Lead of SUN Civil Society menyampaikan, urgensi pembentukan jejaring SUN hingga ke tingkat daerah. Karena persoalan stunting tidak bisa diselesaikan di dalam ruangan, melainkan di tingkat daerah dan akar rumput.

“Perlu upaya keras untuk mewujudkan konvergensi di tingkat sub-nasional,” ucapnya menegaskan.

Pungkas Bahjuri Ali, Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat, Kementerian PPN/Bappenas saat menutup acara mengingatkan, salah satu tugas organisasi masyarakat sipil adalah mengawal kebijakan dan komitmen agar sampai ke kelompok sasaran.

Ditambahkan, kerjasama lintas sektor dalam perbaikan gizi yang sudah berjalan dengan baik di tingkat pusat, perlu diperkuat dengan kerjasama lintas sektor di tingkat daerah.

“Saya berharap, daerah dapat melakukan inovasi intervensi yang didukung swasta, LSM, perguruan tinggi dan organisasi profesi serta mitra pembangunan,” kata Pungkas Bahjuri Ali menandaskan. (Tri Wahyuni)