Basarah Dilaporkan, Hendardi: Momentum Bongkar Kejahatan Keluarga Soeharto

0
Ketua Setara Institute, Hendardi

JAKARTA (Suara Karya): Wakil Sekretaris Jenderal PDI-P Ahmad Basarah dilaporkan ke Bareskrim Polri, Jakarta Pusat, Senin (3/11/2018) malam. Pelapor diketahui atas nama Anhar. Basarah dilaporkan atas dugaan tindak pidana penghinaan dan penyebaran berita bohong (hoaks).

Basarah dianggap menghina mantan Presiden Soeharto dengan sebutan guru korupsi. Surat tanda terima laporan, tercatat di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Bareskrim Polri dengan Nomor STTL/1268/XII/2018/BARESKRIM. Adapun, nomor Laporan Polisi (LP) tersebut, yakni LP/B/1571/XII/2018/BARESKRIM tertanggal 3 Desember 2018.

Menanggapi laporan tersebut, Ketua Badan Pengurus Setara Institute, Hendardi, menilai pernyataan Ahmad Basarah, menjadi momentum pemerintah untuk membongkar korupsi dan kejahatan kemanusiaan yang terjadi.

“Laporan pencemaran nama baik yang ditujukan ke Ahmad Basarah, mesti kita manfaatkan untuk membuka kembali ingatan publik tentang apa yang telah dilakukan Soeharto,” kata Hendardi, dalam diskusi bertajuk ‘Pencemaran Nama Baik vs Menolak Lupa’, di Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta, Jumat (14/12/2018).

Sebelumnya, polemik ini bermula dari pernyataan Basarah mengenai maraknya korupsi di Indonesia dimulai sejak era Presiden ke-2 Soeharto. Berdasarkan itu, Basarah menyebut Soeharto sebagai guru dari korupsi di Indonesia.

Berikut pernyataan Basarah mengenai hal itu, “Jadi, guru dari korupsi di Indonesia sesuai TAP MPR Nomor 11 Tahun 1998 itu mantan Presiden Soeharto dan itu adalah mantan mertuanya Pak Prabowo.”

Di sisi lain, bagi Hendardi, pernyataan Basarah bukanlah tanpa dasar, melainkan sebuah fakta yang harus diungkap kebenaranya saat ini.

“Soeharto itu bukan dibebaskan demi hukum, bukan karena tidak bersalah, tetapi karena status terakhirnya adalah sebagai terdakw kasus korupsi. Lalu, kasus itu berhenti karena dia sakit dan meninggal dunia,” paparnya.

Jadi, seperti diungkapkan Hendardi, momentum pengaduan Basarah harus digunakan guna menggugah ingatan publik bahwa masih ada persoalan yang belum selesai. “Keluarga Soeharto dan kroni-kroni korupsinya itu yang mesti dibongkar saat ini,” tegasnya.

Hendardi kemudian mengingatkan kepada kepolisian untuk tidak menekankan pada persoalan laporan pernyataan Basarah, tetapi justru korupsi zaman Soeharto harus diungkap. (Gan)