Bebas Biaya, AII Siap Fasilitasi Inventor Mandiri Komersialisasikan Invensinya!

0

JAKARTA (Suara Karya): Asosiasi Inventor Indonesia (AII) menyatakan siap memfasilitasi investor mandiri yang tak terafiliasi pada lembaga penelitian atau perguruan tinggi, jika ingin mengkomersialisasikan hasil inovasinya. Fasilitas tersebut tidak dipungut biaya.

“Bagi inventor mandiri, yang bekerja sendiri di garasi rumah bisa menghubungi AII, kami bantu mengubah inovasi jadi produk yang berguna bagi masyarakat,” kata Ketua Umum AII, Prof Didiek Hadjar Goenadi disela syukuran kantor baru di Gedung Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Gatot Subroto Jakarta, Senin (18/7/22).

Hadir dalam kesempatan yang sama, Sekjen AII, Assoc Prof Jonbi.

Sebagai informasi, AII adalah organisasi yang berdiri sejak 2008 dan beranggotakan inventor (penemu) yang invensinya sudah atau sedang didaftarkan perlindungan Kekayaan Intelektual (KI)-nya ke Direktorat Jenderal KI, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemkumham).

Prof Didiek menegaskan, AII hanya memfasilitasi invensi yang memberi manfaat bagi masyarakat dan kemajuan bangsa. Pendampingan dilakukan agar proses hilirisasi invensi dapat berjalan sesuai dengan jalurnya.

Kendala inventor dalam komersialisasi invensi, biasanya bingung dalam valuasi teknologi yang dimiliki, mencari mitra bisnis dan pemasaran produknya. Kami lakukan pendampingan, agar prosesnya lebih terarah dan tepat sasaran.

“Saya melihat banyak temuan yang sudah dipatenkan, tetapi sedikit yang jadi produk komersial. Karena banyak inventor yang membuat temuan tanpa memikirkan potensi ekonominya,” ujarnya.

Karena itu, kegiatan yang akan difasilitasi AII, antara lain valuasi teknologi yang memiliki prospek pra-komersialisasi mulai dari TRL (Technology Readiness Level/Tingkat Kesiapan Teknologi) 7, peningkatan TRL ke 8 atau 9 melalui kerjasama dengan mitra industri.

Selain juga mempromosikan teknologi siap komersialisasi (TRL 8/9) kepada komunitas industri, dan memfasilitasi negosiasi pelisensian teknologi milik inventor kepada investor.

“Jadi AII tidak masuk dari awal, tetapi saat inventor mentok di TRL 6 yang disebut sebagai lembah kematian. Dan banyak inventor ‘berguguran’ karena tidak tahu harus melakukan apa untuk komersialisasi invensinya,” kata Prof Didiek.

Ditanya apakah pendampingan itu tidak dipungut biaya, Prof Didiek menegaskan, ada awalnya tidak. Tetapi ketika inventor yang dibantu dapat investor, maka AII meminta uang kontribusi.

“Kami tidak minta diawal, karena orang sedang susah kok diminta duit. Dana kontribusi baru diminta ketika proyek sudah mulai jalan dan menghasilkan uang. Uangnya juga untuk organisasi, bukan buat saya,” tuturnya.

Dana tersebut untuk keberlangsunhan organisasi, karena AII tidak memungut iuran dari anggotanya. Setiap inventor yang terdaftar namanya di Ditjen KI, Kementeriann Hukum dan HAM, maka otomatis menjadi anggota AII asalkan berstatus Warga Negara Indonesia (WNI).

Dana operasional AII bersumber dari hasil kerja sama dengan sejumlah pihak. Mitra potensial AII, antara lain BRIN, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Direktorat Jenderal KI (Kemenkumham), Perhimpunan Periset Indonesia (PPI), lembaga riset termasuk perguruan tinggi dan industri terkait.

“Bersama BPDPKS, kami menghasilkan 7 teknologi hasil invensi dari riset bidang kelapa sawit dalam periode 2015-2019 yang diminati langsung pihak industri/swasta untuk dilanjutkan ke komersialisasi,” katanya.

“AII dalam memperkuat sistim inovasi nasional melalui percepatan komersialisasi invensi telah mendapat perlindungan KI, terutama pada paten dan disain industri. Kerja sama juga kami lakukan dengan Politeknik Negeri Malang (Polinema) dan BRIN,” katanya.

Kerja sama dengan BRIN dimulai pada program Fasilitasi Inovasi Akar Rumput (FIAR) 2022 yang bertujuan membantu anggota/kelompok masyarakat yang memiliki invensi/inovasi untuk pemberdayaannya.

Program tersebut memiliki kesamaan target seperti valuasi teknologi hasil riset, mediasi kepada industri, pembinaan inventor mandiri/grass-root invention, dan pengembangan kapasitas inovasi.

AII juga menjalin kerja sama dengan satu-satunya organisasi periset di Indonesia yang diakui pemerintah, yaitu Perhimpunan Periset Indonesia (PPI). beberapa aspek kesamaan target, antara lain pembinaan periset menjadi inventor unggul dan pengembangan kapasitas invensi para periset anggota PPI.

“Perlu dipahami, inventor memang periset, tetapo periset belum tentu menjadi inventor karena harus dibuktikan lewat hasil paten yang didaftarkan ke Ditjen KI Kemhumham,” ucap Prof Didiek menegaskan. (Tri Wahyuni)