Belajar Daring Tetap jadi Alternatif Pendidikan Masa Depan

0

JAKARTA (Suara Karya): Meski Pembelajaran Tatap Muka (PTM) akan digelar mulai awal tahun ajaran baru ini, model belajar daring seharusnya tetap digelar sebagai alternatif. Karena pembelajaran berbasis teknologi informasi itu bagian dari pendidikan masa depan.

“Anak juga harus mengenal belajar daring, agar tak gagap teknologi di masa depan,” kata Kepala Sekolah Murid Merdeka (SMM), Laksmi Mayesti dalam sebuah kesempatan di Jakarta, Jumat, (4/7/21).

Laksmi mengungkapkan, saat ini banyak ditawarkan pembelajaran dengan memanfaatlan teknologi sebagai bahan ajar. Namun, tidak banyak pihak yang mengintegrasikan teknologi dengan pedagogi atau metode ajar dengan baik.

“Sejak sebelum pandemi, SMM sudah menginisiasi model pembelajaran dengan ‘blended learning’, yakni metode yang menggabungkan pembelajaran daring (dalam jaringan/online) dengan offline atau tatap muka. Metode ‘blended learning’ tak asing bagi siswa SMM,” ucapnya.

Menurut Laksmi, belajar online bisa sangat menarik, menyenangkan dan bermakna. Kuncinya, ada pada kreativitas yang dibangun tenaga pengajar.

“Semua pengajar di SMM dituntut selalu mengembangkan kreativitas, agar siswa dapat berinteraksi secara terbuka, baik dengan guru maupun teman-temannya,” ujar Laksmi.

Ditambahkan, SMM juga menawarkan fleksibilitas. Karena setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda, dan punya konteks belajar yang berbeda pula. “Sebagai pendidik, kami punya kewajiban merespons kebutuhan belajar anak, termasuk merespon konteks belajar yang ada di sekitar anak,” jelasnya.

Laksmi mengatakan, keberadaan sekolah berkualitas di Indonesia saat ini relatif terbatas. Kalaupun ada, biasanya mereka terkonsentrasi di kota-kota besar. Dan kendala semacam itu hanya bisa diatasi dengan bantuan teknologi informasi.

“SMM kami bangun untuk mengubah miskonsepsi bahwa kita memang bisa belajar dari mana saja. Pendidikan yang berkualitas harus merata dan bisa diakses semua anak di Indonesia. Berkat teknologi informasi, siswa SMM tersebar dari Aceh hingga Papua,” ujarnya.

Tentang kurikulum yang dipakai, Laksmi menjelaskan, SMM menggunakan Kurikulum Nasional. Namun dalam proses belajar-mengajar, SMM menggunakan banyak pendekatan dan inovasi.

“Kami selalu merujuk riset-riset terbaru, misalkan tentang manajemen kelas maupun pedagogi. Kami punya tim kurikulum yang rutin melakukan kajian tentang metode pembelajaran, sebelum akhirnya melibatkan guru-guru untuk berdiskusi,” tuturnya.

Meski metode pembelajaran online bisa diterapkan sepenuhnya, Laksmi juga berharap pembelajaran tatap muka secara langsung sudah bisa dilakukan pada tahun ajaran baru mendatang.

“Kami sangat excited menyambut tahun ajaran baru. SMM juga menyiapkan delapan sekolah satelit di delapan kota, antara lain di Bandung, Depok, Tangerang, Surabaya serta beberapa kota besar lainnya,” katanya.

Ditambahkan, SMM siap seandainya pelaksanaan belajar sudah diperbolehkan dengan tatap muka langsung, tentunya dengan pendekatan belajar yang tak kalah seru dan menyenangkan. (Tri Wahyuni)