Belum Siap Punya Anak? Bisa Kok Simpan ‘Telur’ Dulu!

0

JAKARTA (Suara Karya): Banyak perempuan menunda kehamilan karena ingin fokus di karir. Namun, kendalanya indung telur juga ikut menua, seiring pertambahan usia. Hal itu tentu saja akan berdampak atas kualitas anak yang akan dilahir.

Berbekal pengalaman 25 tahun dalam pengembangan program bayi tabung di Indonesia, Morula IVF menawarkan solusi bagi para perempuan menikah yang ingin menunda kehamilan, tanpa khawatir indung telurnya rusak.

“Pembekuan indung telur atau egg freezing sejak lama dikembangkan Morula. Teknologi itu kini bisa dimanfaatkan secara luas, tak hanya peserta program bayi tabung,” kata Direktur Scientific PT Morula Indonesia, Prof Arief Boediono PhD dalam diskusi media di Jakarta, Senin (23/1/23).

Ditambahkan, ‘egg freezing’ penting bagi pasangan usia muda yang ingin menunda kehamilan, tapi tetap memiliki kualitas telur yang sehat. Bahkan, kualitas telur itu sama baiknya meski disimpan diatas 10 tahun.

Ditanya soal biaya egg freezing, Managing Director Morula IVF Indonesia, Sonny Adi Nugroho menyebut, angka Rp50 juta untuk masa penyimpanan selama 10 tahun. Setelah itu, sewa bisa diperpanjang per tahun.

Kondisi serupa juga bisa dilakukan bagi para suami yang menderita azoospermia atau sperma kosong. Berkat teknologi, sperma tersebut bisa didapat dengan mengambil langsung dari ke testis sebagai ‘pabrik’ sperma.

“Sperma yang sudah dipilih dan dipilah itu nantinya akan dibekukan. Jadi saat pasangan ingin punya anak lagi, bisa mengambil dari simpanan. Semudah itu,” ujarnya.

Sonny menjelaskan, Morula Indonesia ingin mengubah mindset di masyarakat bahwa program bayi tabung (IVF) bukan untuk pasangan yang memiliki masalah infertilitas, tetapi lebih dari itu.

IVF juga bisa membantu para pasangan yang memiliki riwayat penyakit keturunan supaya mendapat anak yang sehat. Hal itu bisa dilakukan melalui teknologi PGT-A (Pre-Implantation Genetic Testing for Aneuploidy) dan Preimplantation Genetic Testing for Monogenic Diseases (PGTM).

PGT-A merupakan screening genetik untuk mengevaluasi embrio dengan kromosom normal, nantinya akan ditransfer kedalam rahim sehingga akan meningkatkan peluang kehamilan dan harapan melahirkan bayi yang sehat.

Sedangkan PGTM merupakan screening genetik lanjutan bagi pasangan yang memiliki risiko penyakit diturunkan seperti thalassemia, spinal muscular atropy, cystic fibrosis yang mendambakan keturunan tanpa penyakit tersebut.

“Kehadiran bayi sehat menjadi cikal bakal generasi yang sehat dan cerdas menuju impian Indonesia menjadi generasi emas 2045,” ucapnya.

Sekadar informasi, Morula IVF Indonesia kini memiliki klinik di 10 kota besar di Tanah Air, yaitu Jakarta, Ciputat, Tangerang, Margonda, Bandung, Padang, Pontianak, Yogyakarta, Surabaya dan Makassar. Selain pengembangan fasilitas baru RS Bunda Morula Nusa Dua, Bali. (Tri Wahyuni)