JAKARTA (Suara Karya): Harapan akhirnya datang bagi warga di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, setelah tujuh hari terisolasi total akibat banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah tersebut pada 26 November 2025.
Akses jalan yang putus pada puluhan titik membuat ribuan warga di Desa Bergang, Karang Ampar, dan Pantan Reuduek sama sekali tak tersentuh pasokan logistik. Bantuan hanya bisa dijatuhkan dari udara, sementara jalur darat sepenuhnya lumpuh.
Di tengah situasi darurat itu, tim Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Leuser Universitas Syiah Kuala (USK) bersama warga setempat menjadi pihak pertama yang berhasil membawa bantuan langsung menembus Desa Bergang.
Perjalanan ekstrem selama 6 jam dari Posko Tepin Mane pada Kamis (4/12/25) itu menjadi tonggak penting upaya penyelamatan warga.
Relawan Mapala Leuser USK, Muslim Ruhdi menceritakan, perjalanan yang dihadapi timnya sebagai ‘jalur mustahil’ yang hanya bisa ditembus dengan kemampuan mountaineering dan navigasi darat.
“Dari Blang Rakal menuju KM 60, kami menyeberangi sungai deras dengan sling darurat, lalu berjalan kaki menyusuri hutan, melewati tebing rawan longsor dan jembatan darurat dari tiang listrik tumbang,” ujarnya.
Aspal telah hilang digantikan jurang tebing yang menganga, jembatan putus total, serta tumpukan batu raksasa dan batang kayu yang menutup seluruh badan jalan.
Di ujung tebing tempat akses terputus, ratusan warga hanya bisa menatap helikopter yang melintas tanpa dapat mendarat. Keputusasaan itu baru terobati saat tim Mapala Leuser datang berjalan kaki membawa karung-karung logistik di punggung.
Sesampainya di Bergang, relawan langsung melakukan evakuasi warga paling rentan melalui jembatan gantung terakhir yang tersisa, namun kondisinya sangat rapuh.
Dengan ‘sit harness’, relawan menuntun seorang tuna netra yang hanya memiliki satu tangan, seorang ibu hamil yang terengah cemas, lansia, dan balita melewati jembatan di atas arus sungai yang ganas.
Satu per satu warga dipindahkan menuju Lampahan, lokasi aman terdekat.
Di dalam desa, situasi semakin kritis. Ratusan warga bertahan hidup dengan persediaan makanan yang semakin menipis. Beras habis, sebagian keluarga hanya makan pisang dan ubi.
Solidaritas warga menjadi penyambung hidup terakhir. Mereka yang masih memiliki sedikit beras membaginya ke tetangga.
Di sisi lain, fasilitas kesehatan lumpuh. Tiga bidan dan satu perawat kehabisan obat-obatan.
Padahal ada warga sakit parah, puluhan ibu hamil, serta trauma akibat belasan rumah yang tersapu banjir.
Setelah berhari-hari menunggu tanpa kepastian, kedatangan tim Mapala Leuser USK disambut tangis haru.
“Ini adalah bantuan pertama dan satu-satunya yang tiba langsung ke Bergang, sejak bencana terjadi,” ujar Muslim.
Tim dan warga harus berjalan 6 jam menembus hujan deras, gelap malam, dan medan longsor. Bahkan mereka sempat bermalam di perjalanan karena medan terlalu berbahaya dilalui di malam hari.
Di mata masyarakat, kelompok pecinta alam sering disamakan dengan pendaki gunung. Namun di bencana Aceh Tengah, Mapala Leuser tampil sebagai unit penyelamat taktis.
Keahlian mountaineering, survival, manajemen SAR, hingga navigasi darat menjadikan mereka satu-satunya tim yang mampu menembus medan ekstrem menuju Bergang.
Upaya ini menjadi bukti, kerja sama dengan kampus, relawan, dan warga dapat membuka akses yang sebelumnya dianggap mustahil.
Kedatangan bantuan bukan hanya soal makanan. Itu adalah tentang harapan, bahwa warga di tiga desa yang terisolasi tidak sendirian menghadapi bencana. (Tri Wahyuni)
