Beredar KTA Digital Bernomor Ganda, Presidium Satupena Minta Penulis Berhati-hati

0

JAKARTA (Suara Karya): Presidium Satupena meminta kepada para penulis Indonesia untuk berhati-hati menerima kiriman kartu tanda anggota (KTA) tanpa verifikasi apalagi disertai dengan iming-iming uang atau janji-janji lainnya. Selain tanpa verifikasi keanggotaan, kiriman KTA itu pun dilakukan secara digital dengan tanda tangan seseorang di bagian kanan kartu. Syarat menjadi anggota menurut aturan organisasi Satupena harus mengisi formulir pendaftar dan mendapat rekomendasi dari pengurus. Calon anggota juga harus menunjukkan karya tulis mereka yang sudah terpublikasi.

Hal ini ditegaskan Presidium Satupena mengingat telah beredar KTA yang mengatasnamakan organisasi Satupena. Kartu-kartu digital itu dikirimkan begitu saja kepada banyak di antaranya tanpa persetujuan yang bersangkutan. Karena tidak disertai dengan verifikasi data, KTA Satupena digital yang kini banyak beredar itu diragukan validitasnya. Presidium telah mendapatkan laporan dari beberapa orang yang namanya dicatut dan hanya dimintai nomor KTP, tanpa mengikuti prosedur yang diatur dalam organisasi.

Berdasarkan pengamatan, Presidium menemukan KTA digital yang kini beredar diberi penomoran secara acak, sehingga terjadi nomor-nomor anggota yang ganda. Nomor anggota atas nama Muhammad Misrad ‘Mice’ SP.A00159 misalnya, dalam KTA digital digunakan atas nama Mpu Jaya Prema yg sebenarnya hanyalah nickname yang dipakai dalam WAG. Sementara itu, Mpu Jaya Prema pernah menegaskan kepada organisasi penulis Satupena, bahwa nama yang digunakan dalam KTA sesuai dengan KTP, yakni Putu Setia. Artinya KTA itu telah dibuat lebih dahulu sekalipun tanpa persetujuan yang bersangkutan.

Tidak Asli

Menurut Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan Satupena Geger Riyanto, KTA atas nama Putu Setia masih tersimpan di sekretariat. “KTA Satupena berupa kartu fisik Flazz BCA lengkap dengan microchip. Di luar itu dipastikan itu tidak asli,” kata Geger Riyanto.

Geger menambahkan, Satupena tidak pernah mengeluarkan KTA dalam bentuk digital. Ia menduga KTA-KTA baru itu dikeluarkan secara mendadak oleh sekelompok orang untuk kepentingan memobilisasi para penulis.

Koordinator Ketua Presidium Satupena S Margana mengatakan, sebelum menggelar Rapat Luar Biasa Anggota (RLBA), pada Minggu (1/8/2021) dan Minggu (8/8/2021), Satupena telah melakukan verifikasi terhadap para anggota. Tim Caretaker yang waktu itu bertugas telah menghubungi anggota Satupena satu per satu untuk kemudian mengirimkan data keanggotaannya. “Jumlah anggota yang kami verifikasi 277 orang dan sampai saat ini belum merekrut anggota baru,” kata Margana.

Kalau ada nama-nama anggota di luar 277 orang itu, yang mengaku-aku telah menjadi anggota Satupena, tambah Margana, itu berarti anggota yang direkrut baru dengan tujuan memobilisasi para penulis untuk kepentingan sekelompok orang.

“Jadi saya mengimbau agar para penulis berhati-hati menerima KTA digital yang dibubuhi tanda tangan sesorang yang seolah ingin melekatkan namanya seumur hidup,” kata Margana. Perlu diketahui dalam KTA digital yang kini beredar, terdapat tanda tangan atas nama Dr Nasir Tamara MA, M.Sc yang sebenarnya telah dinyatakan demisioner sebagai Ketua Umum Satupena lewat RLBA pekan lalu.

Margana kembali menegaskan, KTA Satupena berbentuk fisik Flazz BCA dengan microchip, yang bisa dipergunakan untuk berbagai kepentingan bertransaksi. Sebagian KTA Satupena masih disimpan pemegang mandat kesekretariatan sambil menunggu alamat pengiriman dari para anggota.

“Kami perlu menegaskan ini agar para penulis Indonesia yang menjunjung tinggi harkat dan martabat penulis tidak mudah terpedaya oleh sekelompok orang yang ingin membuat kisruh organisasi,” tegas Margana.

Dalam kesempatan itu, Margana juga menegaskan bahwa Presidium Satupena selalu berusaha mentaati seluruh prosedur aturan sebagaimana yang digariskan dalam anggaran dasar (AD) organisasi. Oleh sebab itu, RLBA yang baru saja berhasil memilih 5 orang ketua presidium, merupakan mekanisme dari organisasi.

“Jadi RLBA adalah mekanisme biasa dari organisasi dan tidak perlu dipolitisir seolah bagian dari nafsu berkuasa. Organisasi yang sehat harus ada batas waktu kepengurusan,” kata Margana.

Pada masa mendatang, di bawah kepemimpinan kolektif kolegial, Margana berharap Satupena akan tumbuh menjadi organisasi profesi yang lebih dinamis dan demokratis. Bahwa yang terpenting, Satupena tetap berkomitmen memperjuangkan hak-hak dan martabat para penulis Indonesia ketika berhadapan dengan negara atau institusi-institusi lainnya. (Pramuji)