Berkat Diet Sampah Plastik, Khairunnisa Raih Juara Penulisan Sidu

0

JAKARTA (Suara Karya): Berkat idenya dalam diet sampah plastik, siswa Sekolah Dasar Islam Al Abidin Surakarta, Siti Juneeta Khairunnisa (10) berhasil meraih juara lomba penulisan yang digelar Sinar Dunia (Sidu), anak perusahaan dari APP Sinarmas.

Tulisan Khairunissa berjudul “Indonesia Bebas Sampah Plastik” itu menarik perhatian juri Festival Penulis Cilik Sidu (FPCS) 2018. Ia menjadi juara pertama,
mengalahkan 6.137 peserta lainnya.

Atas prestasinya itu, Khairunissa dapat hadiah uang tunai, pelatihan jurnalistik bersama 2 pemenang lain serta kesempatan “ngobrol” dengan jurnalis senior, Andi F Noya. Pemenang kedua diraih Alfia Kirana Maheswari (10), siswa SDN 1 Dapurno, Wirosari Jawa Tengah dan ketiga, Bianca Alexandria Situmorang, siswa SD Pangudi Luhur Jakarta.

Khairunissa mengaku senang tulisannya mendapat apresiasi dari para juri. Ia berharap kebiasaannya dalam diet sampah plastik juga bisa dilakukan orang lain. Sehingga makin banyak orang yang sadar akan bahaya sampah plastik bagi lingkungan.

“Diet sampah plastik ini berawal dari kesedihan saya waktu baca artikel tentang penyu yang mati karena menelan sampah plastik di laut. Saya juga baca di google, butuh 10-20 tahun buat sampah plastik untuk bisa terurai,” ujar bocah perempuan yang akrab dipanggil Nisa itu penuh percaya diri.

Setelah itu, lanjut Nisa, ia mengajak orangtuanya untuk mulai diet sampah plastik. Saat belanja ke supermarket, Nisa selalu mambawa tas belanja dari bahan. Begitupun saat beli makanan diluar seperti bakso atau nasi goreng, Nisa selalu membawa wadah dari rumah.

Nisa mengaku tak mudah mengajak teman-temannya untuk mulai melakukan kebiasaan baik tersebut. Karena itu, ia mencontohkannya lewat perbuatan. “Saya hanya ingin Indonesia bebas dari sampah plastik,” kata Nisa yang hobi menulis dan membaca sejak kelas 3 SD itu menandaskan.

Head of Domestic Cultural Business Unit APP Sinarmas Santo Yuwana menjelaskan, Sidu sejak 2 tahun lalu meluncurkan gerakan “Ayo Menulis Bersama Sidu”. Gerakan itu untuk meningkatkan kompetensi dan keterampilan siswa kelas 4,5 dan 6 SD melalui kebiasaan menulis.

“Kami rancang sebuah buku yang diharapkan dapat merangsang anak untuk menulis. Diperlukan keterlibatan orangtua, karena buku tersebut harus ditulis setiap hari selama 21 hari. Jika dilakukan konsisten, hal itu bisa tumbuh jadi kebiasaan,” ujarnya.

Dipilih kegiatan menulis, menurut Santo, hal itu untuk mengimbangi kesukaan anak pada gadget. Padahal kegiatan menulis dapat membantu anak untuk berpikir kreatif.

“Mengajak anak untuk menulis di era digital saat ini bukan hal mudah. Padahal kegiatan menulis tetap penting, karena anak belajar bagaimana menuang gagasan dan berpikir kreatif,” kata Santo Yuwana menandaskan. (Tri Wahyuni)