Berkat Diplomasi Pendidikan, Lulusan SMK Kini Bisa Kuliah S1 di Jerman

0

JAKARTA (Suara Karya): Upaya diplomasi pendidikan yang dilakukan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Berlin akhirnya membuahkan hasil. Lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) kini bisa kuliah S1 atau sarjana di berbagai universitas di negara tersebut.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Berlin, Ardi Marwan menjelaskan, keputusan ini dikeluarkan Pemerintah Jerman, tepatnya The Standing Conference of the Ministers of Education and Cultural Affairs (KMK) langsung kepada KBRI Berlin.

“Bukti diakuinya ijazah SMK dari Indonesia dapat dilihat di situs resmi Anabin, yaitu anabin.kmk.org,” kata Ardi dalam siaran pers, Rabu (15/6/22).

Basis data Anabin menampilkan daftar informasi seluruh institusi dan jenjang pendidikan yang telah dievaluasi Central Office for Foreign Education (Zentralstelle für ausländisches Bildungswesen/ZAB/ Kantor Pusat Pendidikan Asing) Jerman.

“Lewat basis data Anabin, calon peserta didik dapat mencari informasi tentang kualifikasi akademik yang diakui di Jerman,” katanya.

Menurut Ardi, diakuinya ijazah SMK oleh pemerintah Jerman akan berdampak terhadap peningkatan jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Jerman. Apalagi, Indonesia menghasilkan sekitar 1,5 juta lulusan SMK setiap tahunnya.

Sebelum keputusan terbaru itu terbit, ijazah sekolah menengah tanah air yang diakui Pemerintah Jerman hanyalah ijazah Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA).

Para lulusan SMA/MA dari Indonesia yang ingin studi S1 di Jerman disyaratkan untuk mendaftar dan mengikuti program preparatory college atau studienkolleg (STK) selama 2 semester di berbagai institusi pendidikan negeri atau swasta di Jerman.

Adapun syarat mengikuti program STK adalah ijazah SMA/MA dan sertifikat kompetensi bahasa Jerman minimal di level B2. “Ada juga lembaga pendidikan yang mensyaratkan B1 dan C1, tetapi jumlahnya tak banyak. Umumnya level Bahasa Jerman B2 sudah memadai,” ucapnya.

Program STK yang diambil tergantung pada program studi S-1 yang menjadi pilihan calon mahasiswa. Untuk program teknik, sains dan matematika, maka program STK yang diambil adalah T. Jika program bisnis, ilmu sosial dan ekonomi, maka program STK-nya adalah W.

Untuk program kedokteran, biologi dan farmasi, mensyaratkan program STK dengan kode M, sementara itu program humaniora, desain/seni, program STK-nya adalah G. Terakhir, untuk program/jurusan bahasa, maka program STKnya adalah S.

Usai menempuh studienkolleg selama 2 semester, peserta wajib mengikuti asesmen akhir yang disebut Feststellungsprüfung (FSP). Setelah lulus, calon mahasiswa baru bisa mendaftar S-1 di kampus tujuan.

“Hingga kini, hampir semua universitas negeri di Jerman menerapkan kebijakan ‘no tuition fee’ kepada seluruh mahasiswa, termasuk mahasiswa internasional,” tuturnya.

Untuk calon mahasiswa dengan ijazah SMK harus sudah menempuh studi di universitas di Indonesia lebih dulu selama satu tahun, baru kemudian mendaftar program STK. Persyaratan itu tidak berlaku jika calon mahasiswa pemegang ijazah SMA dan SMK telah menempuh pendidikan program sarjana di Indonesia selama minimal 4 semester atau 2 tahun.

“Jika sudah kuliah minimal 4 semester di Indonesia, mereka bisa langsung mendaftar pada program sarjana yang menjadi tujuan studinya di Jerman,” ucap Ardi.

Disebutkan, saat ini ada sekitar 8 ribu pelajar Indonesia yang sedang belajar di Jerman. Selain biaya pendidikannya dikenal murah, Jerman juga menawarkan keindahan alam dan berbagai fasilitas publik inklusif yang dapat diakses seluruh masyarakat.

Mahasiswa yang studi di Jerman juga dapat kesempatan untuk kerja paruh waktu. Dan menariknya, setelah lulus mendapat kesempatan untuk mencari kerja di Jerman.

“Diharapkan, semakin banyak talenta muda Indonesia menempuh pendidikan tinggi di Jerman, lalu kembali ke tanah air untuk membangun bangsa,” kata Ardi menandaskan. (Tri Wahyuni)