Berkat Jelantah, Mahasiswa UPER Menang di Kompetisi Migas Internasional

0

JAKARTA (Suara Karya): Berkat minyak jelantah, mahasiswa Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Pertamina (UPER), Andi Muhammad Athallah Naufal berhasil menyabet juara 2 di ajang Society of Petroleum Engineer (SPE) International Student Paper Contest 2022.

Di kompetisi itu digelar di Houston, Amerika Serikat, temuannya mengungguli karya dari perguruan tinggi berkelas dunia seperti Indian Institute of Technology, Gubkin University dari Rusia, Universidad Nacional de Colombia, dan Texas A&M University at Qatar.

Athallah dalam wawancara daring, Selasa (18/10/22) menjelaskan,
Penelitian yang dilakukannya bersifat eksperimental. Ia membuat produk biosurfaktan dengan memanfaatkan ekstrak asam lemak dari minyak jelantah.

Biosurfaktan adalah senyawa dari bahan mikroba yang mampu mengikat dan menguraikan limbah. Biosurfaktan memiliki sifat anionik yang disebut Methyl Ethyl Sulfonate atau MES.

“Limbah lumpur minyak berbentuk padatan sering ditemukan pada kebocoran pipa, pada proses pembersihan tangki penyimpanan minyak, maupun pada proses pemurnian minyak,” ujarnya.

Limbah lumpur minyak itu terdiri dari campuran air, sedimen dan hidrokarbon berkonsentrasi tinggi. Limbah itu juga mengandung logam berat yang dapat membahayakan lingkungan maupun manusia.

Lewat penelitiannya, Athallah menawarkan metode bioremediasi dengan bantuan bakteri untuk mendegradasi limbah lumpur minyak. Marena memiliki viskositas yang sangat tinggi, bakteri pada umumnya akan sulit untuk mengurai limbah lumpur minyak secara optimal.

Selain itu, lanjut Athallah, bakteri juga dapat nutrien tambahan dari biosurfaktan, sehingga mereka lebih nyaman berkembang biak dan bertumbuh.

Vice President Upstream Business Development Pertamina Hulu Energi (PHE), Henricus Herwin mengutarakan kebanggaannya atas keberhasilan Athallah. PHE ikut aktif mendukung mahasiswa Indonesia, antara lain dengan mensponsori Athallah dan timnya untuk berkompetisi di Amerika Serikat.

Inovasi Athallah menonjol, karena memiliki sejumlah keuntungan, yakni biaya yang lebih terjangkau karena dibuat dari limbah minyak jelantah dan ramah lingkungan jika dibandingkan dengan metode konvensional, yakni insinerasi dan land filling.

“Metode insinerasi dilakukan dengan cara membakar limbah lumpur minyak. Metode itu memang jauh lebih cepat, namun menghasilkan emisi karbon dioksida yang sangat tinggi. Sedangkan metode landfilling dilakukan dengan menimbun limbah dalam tanah. Metode itu kurang efisien karena perlu lahan yang sangat luas,” ujar Athallah.

Sebelum bertolak ke Houston, Athallah juga berhasil mendapat Penghargaan Kehormatan ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Nasional (PILMAPRES). Athallah bersaing di babak final bersama 15 mahasiswa berprestasi lainnya dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Penanganan limbah B3 dari eksplorasi migas di Indonesia menjadi penting karena jumlahnya mencapai 70 ribu ton. Data tersebut diperoleh dari laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada 2019. Jumlah itu melonjak dari 2018 yang mencapai 33 ribu ton.

Untuk mengelola limbah B3 tersebut perlu biaya hingga 12,17 juta Amerika atau setara Rp173 miliar. Inovasi Athallah diharapkan menjadi solusi penanganan limbah lumpur minyak yang dihasilkan kegiatan migas, termasuk limbah minyal lainnya yang dihasilkan rumah tangga. (Tri Wahyuni)